Kamis, 01 November 2018




Cerpen : Lari!

By: Husain Umar Abdurahim 




Untuk 18 +



Tokoh Utama :

TA
Nama Asli : Toby Agustian
Umur : 19 Tahun
Pekerjaan : Perampok, Tukang teror
Ciri dan Watak : Badan kurus, kulit putih, ganteng, namun tidak punya belas kasih dan kejam
Status : Antagonis

Tokoh Pemain:

Bagas
Umur : 19 Tahun
Pekerjaan : Penjual pulsa
Ciri dan Watak : Badan kurus, kulit sawo matang, rambut keriting, dan humbling
Status : Protagonis

Livia
Umur : 23 Tahun
Pekerjaan : Karyawan mall
Ciri dan Watak : Badan tinggi dan montok, kulit kuning, rambut warna cokelat, dan
                            pemberani 
Status : Protagonis

Galih
Umur : 23 Tahun
Pekerjaan : Asisten apoteker
Ciri dan Watak : Badan tinggi, kulit putih kemerahan, hidung agak mancung, dan pemberani
Status : Protagonis

Wendy
Umur : 16 Tahun
Pekerjaan : Siswi SMA
Ciri dan Watak : Badan pendek, kulit putih, imut, berambut pony, dan agak gugup
Status : Protagonis

Rando
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Guru sains SMA Negeri
Ciri dan Watak : Badan agak kekar, kulit kuning kemerahan, rambut kribo, dan lembut
Status : Protagonis

Randu
Umur : 23 Tahun
Pekerjaan : Anggota komunitas bikers se-pulau Jawa
Ciri dan Watak : Badan agak kekar, kulit kuning kemerahan, rambut kribo, dan agak kencang
                            nada bicaranya
Status : Protagonis




Tim Patroli Kepolisian

Roselyne
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Polwan, pangkat Aiptu
Ciri dan Watak : Badan langsing, kulit kuning, rambut se-bahu, bersenjata, dan antusias
Status : Protagonis

Wilsen
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Polisi, pangkat Aiptu
Ciri dan Watak : Badan tegap, kulit putih, rambut cepak, bersenjata, dan cekatan
Status : Protagonis


Tim Inteljen Kepolisian

Galuh
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Polwan, pangkat Aiptu
Ciri dan Watak : Badan langsing, kulit putih kekuningan, berjilbab, bersenjata, serta cepat
                            nada bicaranya
Status : Protagonis



Mario
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Polisi, pangkat Aiptu
Ciri dan Watak : Badan tegap, kulit putih kehitaman, rambut gundul, bersenjata, serta kuat
Status : Protagonis




Tim Kopassus TNI

Ferry
Umur : 36 Tahun
Nama Asli : Ferry Mantofa
Pekerjaan : TNI, pangkat Kapten
Ciri dan Watak : Badan kekar, kulit kuning kehitaman, rambut botak, bersenjata lengkap,
                            namun periang
Status : Protagonis

Emelda
Umur : 33 Tahun
Nama Asli : Emelda Simanjuntak
Pekerjaan : TNI, pangkat Letda
Ciri dan Watak : Badan montok, kulit putih kemerahan, rambut se-bahu, bersenjata lengkap,
                            cantik jelita tetapi tegas, namun berperasaan
Status : Protagonis

Reza
Umur : 30 Tahun
Nama Asli : Reza Sihar
Pekerjaan : TNI, pangkat Ast. Lettu
Ciri dan Watak : Badan kekar, kulit merah kehitaman, rambut cepak, bersenjata lengkap,
                            kuat, dan sangar
Status : Protagonis

Naomi
Umur : 30 Tahun
Nama Asli : Shintya Naomi
Pekerjaan : TNI, pangkat Ast. Lettu
Ciri dan Watak : Badan montok, kulit putih kekuningan, rambut model pony se-punggung,
                            bersenjata lengkap, cantik imut, dan pemberani
Status : Protagonis

Cho En Liu
Umur : 30 Tahun
Nama Asli : Liong Cho En Liao Putera Siliwangi
Pekerjaan : TNI, pangkat Ast.Letda
Ciri dan Watak : Badan kekar, kulit kuning, rambut gondrong pony, bersenjata lengkap, kuat,
                            agak sadis, dan gesit
Status : Protagonis

Khalid
Umur : 30 Tahun
Nama Asli : Khaleed Bin Raden Gajahmada
Pekerjaan : TNI, pangkat Ast. Letda
Ciri dan Watak : Badan kekar, kulit merah, rambut klinis, bersenjata lengkap, kuat, gagah,
                            dan humbling
Status : Protagonis




******
Cerita ini hanyalah fiksi, tidak ada hubungan dengan nama orang, tempat, dan suatu kejadian, realita, atau peristiwa yang sebenarnya





Chapter I

Duel Maut Dengan Tim Patroli!

   Pada jam 11:00 siang bolong di kota Depok, muncullah seseorang pria yang berinisial TA, dengan nama aslinya (Toby Agustian) yang berbadan kurus dan ganteng yang berlari-lari kencang “Tap, tap, tap, tap...”, ternyata pria tersebut sehabis merampok dompet anak perempuan se-umuran Sekolah Dasar yang dibiarkan menangis menjerit sampai merasuki jiwanya di pelukan seorang ibu kandungnya, sambil membawa sebilah celurit asli madura yang amat runcing. Pada saat di dalam suatu gang yang sepi dan jarang dikunjungi.

Tawaan TA “Wuahahaha...!!, akhirnya aku dapat gopek ribu, wahaha...!!” sambil terengos-engos dan juga mengambil uang di dalam dompet tersebut

    Namun tak lama kemudian datanglah sebuah mobil patroli kepolisian sedan Ford Focus warna abu-abu yang sedang berhenti di belakangnya “Ciiittt....”, hal seperti itu membuat TA lari terbirit-birit “Tap, tap, tap, tap...”, tim patroli ini pun tidak langsung diam dan terus mengejarnya “Wiuuww....!!!”, dan sesampai di jalan yang buntu, TA pun berhenti dan tim patroli pun segera memojokinya.

Perintah Aiptu Wilsen kepada TA “Hei, jangan bergerak kau!, buang celuritmu di jalan!, kami polisi!, mengapa kabur dari pemeriksaan kami!?, kau rampok yah..!?” menodongkan pistol Desert Eagle-nya

   Kemudian si TA pun langsung menendang pistolnya dan membanting Aiptu Wilsen ketanah “Buaakk..!!”. Melihat itu Aiptu Roselyne tidak tinggal diam, ia pun langsung mengambil sepucuk senapan Spas 12 dari mobil patrolinya “Klik!, klik..!”, dan menembakinya sebagai tanda peringatan saja “Dor...!”, “Klik!, klik..!” sebanyak dua kali, akan tetapi tidak diindahkan oleh TA tersebut, melainkan TA malah semakin beringas dan berhasil mengunci Aiptu Roselyne dengan sekejap “Grab..!”.

Seru Aiptu Roselnye “Wilsen!, ambil nih senapan!” sambil melemparkan senapan tersebut

Dan sahut Aiptu Wilsen “Baik komandan!” mengambilnya

    Tak lama itu seorang Aiptu Roselyne pun segera menendang dari depan si TA berposisi kearah belakang pada bagian alat vitalnya “Duakk!!” sambil berkata :

Ucap Aiptu Roselyne “Rasakanlah kau, dasar pencuri!”

  Dan Aiptu Wilsen pun langsung memukulnya namun tidak kena. TA berhasil lagi membuang senjata tersebut dari tangan Aiptu Wilsen dan memukulnya pada bagian perut sebanyak sepuluh kali sambil dibarengi dengan menyikutnya pula “Bukk!, bukk!, bukk...!”. Ia pun langsung menjerit minta tolong :

Lalu seru Aiptu Wilsen “Komandan Roselyne!, lebih baik ananda ambil Stun Rod dari mobil, jangan ragu, dan cepatlah lumpuhkanlah si cowok keras kepala macam ini!” bertahan diri saat dipukuli dengan keras oleh si TA

Sahut dari Aiptu Roselyne “Baik Wilsen!” bersegera mengambil sebuah Stun Rod dari mobilnya

 Lalu diambilnya sebuah tongkat setrum tersebut “Jleb!”, dalam sekejap Aiptu Roselyne melumpuhkan si TA “Brrrzzzttt..!!!”, lumpuhlah seorang TA di tempat dan ditambah lagi diborgol oleh Aiptu Wilsen dengan kencang, dan digiringlah ia kedalam mobil patroli tersebut “Jleb!”, dan ditutuplah pintu mobilnya “Blam!”.
  


Chapter II

Pelarian

  Satu setengah bulan kemudian, TA berhasil meloloskan diri dari suatu bagungan kamp penjara kota Depok, dengan diiringi oleh betapa kencangnya suara alarm darurat “Toeett...!!!”, entah dengan bagaimana caranya ia akan pulang menuju ke kota Bogor, walau dalam keadaan jadi seorang buronan. Waktu sesampainya di kota Bogor, dan di rumah tempat tinggalnya, ia pun segera berganti pakaian tahanan birunya dengan baju jersey hijau khas Persikabo-nya, bercelana panjang chinno warna putih, berjaket abu-abu bahan kulit yang baru dibelinya pada bulan yang lalu sebelum ia ditahan, dan satu tas selempang warna oranye yang berisi sebuah pistol Colt Anaconda dan sangkur khas Brimob warna lorengnya yang tersedia untuk keluar kota menuju Sukabumi.

Sorakan TA “Huff..., akhirnya gua kembali bereksplorasi!, yahuii...!!” sambil mengaca ke cermin dan merapihkan rambutnya yang tak terurus tersebut

   Usai berdandan, ia pun langsung berangkat meningalkan rumahnya dalam keadaan rapi dan terurus, kemudian ia buang pakaian tahanan birunya ke tong sampah “Plung!”, ia pun langsung mengeluarkan gadged Sony Experia pada tangan kanannya untuk memesan driver online Grab untuk mengantarnya ke Stasiun Paledang "Bip, bip, bip”. Satu menit kemudian, datanglah seorang driver Grab ini untuk mengantarkan TA ke tempat tujuan “Vruumm...”, “Ciiitt...”, berangkatlah TA ke tujuannya dengan seorang driver online tersebut “Bruuum.....”. Lalu pada jam 11:30 siang, ia telah berada di Stasiun Paledang untuk menunggu kereta api Pangrango Express dari Bogor ke Sukabumi.

TA pun mengoceh sendirian “Bentar lagi keretanya akan datang, hehehe... polisi nggak akan bisa ringkus gua lagi, hahahaha....!!, selamat tinggal polisi murahan, dan selamat datang urang Sukabumi, hahaha” sambil duduk di bangku penunggu
  
    Sedangkan pihak kepolisian kota Depok tidak tinggal diam lagi, mereka segera kerahkan tim inteljen kepolisian kota Bogor menyusup kerumahnya “Vruumm....”, sebab keseluruhan anggota kepolisian sedang melakukan penangkapan senyap tanpa diketahui oleh masyarakat umum, dengan memakai mobil sedan Toyota Yaris hitam dengan bergerak cepat. Terus sesampainya di rumah TA, tim inteljen ini langsung bersegera membobol pintu gerbangnya dan mengetuk pintu rumahnya, dengan bersenjata api jenis SMG (Sub Machine Gun).

Seruan dari Aiptu Galuh “Toby Agustian!, cepat bukakan pintunya!, kami pihak kepolisian!” dengan mengetuk-ngetuk pintu rumahnya

   Namun tak ada satupun suara yang menjawabnya, dan makin sunyi saja rumah tersebut, lalu mereka periksa rak sepatu dan sandalnya, dan mereka pun langsung mencoba untuk mengetuknya sekali lagi.

Seruan Aiptu Galuh kedua kali “Hello ganteng...!, ini yang terakhir kalinya, cepat bukakan pintu rumahmu atau tidak..., kami dobrak masuk paksa!” mengetuk lagi

Gagasan ide Aiptu Mario “Baiklah Galuh, sekarang ane yang dobrak pintunya, dan kita sama-sama masuk dan periksa semua isi ruangan rumah ini!” sambil mengsiapkan sepucuk senapan jenis SMG MP5 Silencer di tangannya

Aiptu Galuh pun mensetujui gagasan idenya “Kerja bagus, Mario...!, kita laksanakan!” sambil beraba-aba

Teriak Aiptu Mario “Hyaaahhh....!!!” mendobrak pintu rumahnya

    Pintu rumah tersebut didobraknya dengan kencang “Bruaakk...!!”, sebab mereka mendobrak sebuah pintu itu dengan senapan mereka, lalu masuklah mereka kedalamnya untuk menggeledah isi ruangan rumah tersebut “Tap...,tap..., tap...”, dari ruang tamunya, menuju ke ruang makan, ke dapur, ke kamar mandi, hingga ke kamarnya, semuanya sudah mereka lakukan dengan teliti, dan ternyata tidak ada tanda-tandanya, lalu akhirnya sudah tiga jam mereka tidak mendapatkan apa-apa selain keheningan rumah dan lingkungan tersebut, dan mereka pun segera keluar dari rumah tersebut sambil berkata :

Titah Aiptu Galuh kepadanya “Sudahlah, bro...! kita berbalik lagi ke kantor polisi....”

Dan sahut Aiptu Mario pula “Sekalian kita laporkan saja kepada kepala Komisaris kantor polisi, biar pihak kepolisian segera membentuk kekuatan yang baru untuk menyergapnya dengan bersama-sama....”

Kata Aiptu Galuh “Sebab penjahat dan buronan macam dia lumayan berbahaya, jikalau kita hadapi sendirian, walau dia tak memiliki komplotan gang untuk melindunginya dari kepolisian!” berjalan keluar dari rumah itu

Dan balas Aiptu Mario “Siap 86!, laksanakan!” dirangkul oleh Aiptu Galuh untuk meninggalkan rumah tersebut dalam keadaan terdobrak dengan kencang

 Pada jam 12:00 siang, kereta api tersebut berangkat menuju ke Sukabumi, TA menikmati pemandangan alam yang diluarnya dengan santai dan relax, dibarengi pula dengan mendengarkan musik lagu-lagu yang ia sukai bersama dengan penumpang yang lainnya pada gerbong yang ketiga.

Gumam TA “Pekerjaan telah usai, gua bebas nikmati fasilitas kereta ini tanpa sesal, hehehe....” sambil tiduran
    
   Akhirnya ia tertidur pulas di kursi gerbong kereta api tersebut dengan lelap karna sudah lamanya satu setengah bulan ia telah kehilangan hobby menikmati kehidupan yang sesuai keinginannya, dan disinilah para penumpang kereta api Pangrango Express berkomentar dan berbincang-bincang dengan agak keras. Tanpa ia sadari waktu ia telah memasuki suatu daerah kota Sukabumi, yaitu Cigombong, ada segerombolan tim inteljen kepolisian kota Sukabumi sedang menyamar sebagai komunitas railfans tersebut langsung mengintainya dari luar gerbong kereta api yang sedang mengejarnya dengan dua kendaraan sepeda motor sebab kabar keberadaan TA pun belakangan ini telah disadari saat telah meninggalkan daerah kota Bogor dan kota Depok.

Sebuah titah dari seorang ketua tim inteljen “Itu dia, Toby Agustian si buronan dari Depok!, kejar dia jangan sampai dia lolos keluar Bogor dan memasuki kota Sukabumi....” sambil menunjuk wajahnya yang terlihat dari luar gerbong kereta api itu

Juga titah dari wakil tim inteljen “Jangan sampai lolos!, dia penjahat dan buronan yang amat berbahaya!” sambil memerintahkan jalankan motornya

Lalu jawab para anggota tim inteljen ini “Siap 86!, kami laksanakan!” sambil mengejarnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi demi menjalankan tugasnya

      Namun tak berhasil juga, dan kereta tersebut sangat berlaju dengan kencang, hingga anginnya pun hampir menjatuhkan sepeda motor tersebut “Wuuussshhh......”.  Sesampainya seorang TA ini di Stasiun Sukabumi, ia langsung pesan sebuah mobil taxi Blue Bird untuk menuju ke sebuah villa penginapan di daerah Sukaraja, pada jam 15:00 sore. Sesampainya di suatu villa penginapan yang bagus dan terawat serta pemandangan alamnya yang masih asri dan terjaga dari berbagai macam polusi, TA pun langsung tertidur lagi di kursi depan jendela villanya “Hoaaammm.....”.   
                 
TA menguap kelelahan “Ngantuk gua, euy... Huaahh...” tiduran di kursi depan jendela villa

    Tak lama kemudian, muncullah seorang remaja berumuran 16 tahun keluar dari bangunan rumah villa tersebut dan ia terkejut ada seseorang lelaki umur 19 tahun menggelandang di kursi villa ini, dan ia gugup sambil berkata :

Ucap Wendy “Iii..., ini siapa nih orang?, kok mengapa langsung ada disini tanpa mengucapkan salam yaahh...?, apa mungkin ia menggelandang beberapa bulan, atau apakah dia sehabis mabok di jalanan, apa juga mungkin ia rampok....???, uwalah nggak mungkin ia rampok, bisa saja dia menggelandang sehabis diusir dari rumahnya, kali.....??? Hmmm....???” agak gugup

   Tak lama kemudian, ia pun langsung menyambut kedatangan seorang TA dengan hangat, tanpa pamrih, apalagi rasa takut akan dirampok dan diterornya. Saat inilah TA langsung berkenalan dengan Wendy, yaitu terutama menanyakan nama dan umurnya.

Tanya TA kepada Wendy “Siapa namamu, dik...?, kelahiran dari mana, dan berapakah umurmu sekarang, dik...? dengan tersenyum licik

Dan jawab Wendy “Hello kakak, nama saya Wendy, kak...! umur 16 tahun, kak...., saya orang asli Sukabumi, kakak...” dengan tersenyum senang

Kemudian ujar TA “Hmm..., kalau begitu, Dik Wendy..., nama saya Toby, panggil saja saya dengan singkat, Kak Toby” bersalaman

Ujar Wendy “Baik kak..., mari saya antarkan Kak Toby kedalam rumah villa ini, yaa... soalnya lumayan banyak juga nih, teman-teman saya yang bermain disini, kak...” bergandengan tangan

TA pun senang hati dengannya “Hihihi...., makasih banyak yaa Wendy, kau baik amat ama kakak, kira-kira disini ada kolam renang, nggak...?” sambil mencium bau badannya

Lalu ujar Wendy “Ada kok, kak... nanti kita berenang bareng kak....” dengan tertawa riang

   Saat ia memasuki rumah villa tersebut diantarkan oleh Wendy, seluruh teman-teman bermainnya Wendy pun menyahut kedatangan tamunya dengan hangat, mereka semua saling bersalaman dan membagikan senyumnya kepada sang tamu ini, TA dengan semangat yang penuh tanpa kecuali. Usai bersalaman, seorang Galih dan Livia memanggil Rando dan Randu untuk mempersiapkan makan sore untuk TA yang sehabis perjalanan jauh.

Sapa Galih dan Livia “Rando..., Randu...”

Dan sahut Rando dan Randu “Iya Gal..., Livi...”

Titah Galih dan Livia “Tolong siapkan nasi goreng steak kambing dan susu pisang buat si Toby, Ndo..., Ndu... soalnya dia udah lapar nih...”

Sahut Randu “Siap Gal..., Livi...” dengan agak kencang nadanya

    Rando dan Randu pun segera memasak nasi goreng pakai steak daging kambing tersebut, sesuai yang dititahkan teman bermainnya “Cssshhh....”, juga mempersiapkan susu rasa pisangnya juga dengan diblender “Tuiiittt....”. Dengan singkat, makanan dan minuman tersebut sudah jadi, dan diberikan kepada si TA dengan ikhlas hati.

Ujar Rando “Ini..., nasi goreng steak kambing dan susu pisang sudah jadi, Toby....!” memberikannya dengan lembut hati dan nada bicaranya

Ucap TA “Oke thanks brother, Rando...!, Randu...! gue senang hati ama kalian-kalian” sambil memakan nasi goreng steak kambingnya

Dan tawa semuanya “Ahahahaha...., iya kami juga senang ama kamu kok, Toby....”

Ajakan Bagas “Eh bro Toby...!” menyapanya dengan menepuk pundaknya

Sahut TA “Iyap, ada apa Bagas...?” sambil meminum susu pisangnya

Ajakan Bagas lagi “Apakah hape loe masih ada pulsanya, nggak?, klo udah habis, mending beli di gue ajah” dengan sok asyik

Dan ucap TA “Tak usah lah..., gue masih ada tinggal dikit, tetapi... nggak apa-apalah, gue beli yang Rp30.000.00-an ajah, boleh nggak?” sambil mengecek pulsa hapenya

Ujar Bagas “Ohh boleh saja, bro Toby...!” dengan memasukan pulsa hapenya ke nomor TA

    Usai makan dan minum, TA pun ingin buang air kecil maupun besar diantarkan langsung menuju ke kamar mandi oleh Bagas dan Wendy “Tap..., tap..., tap...”, saat sampai di ruang kamar mandinya yang bersih dan terawat, Bagas dan Wendy pun langsung beritahu cara pemaiakan alat mandi dan buang airnya.

Ujar Bagas “Disini kamar mandinya bagus-bagus dan canggih....” menunjukan dalamnya
Dan ujar Wendy juga “Walau tak semewah kamar mandi pada hotel-hotel dan villa lainnya, kak... pokoknya nikmati saja fasilitas bagus disini, kak...” menunjukan dalamnya pula

Kata TA kepada keduanya “Oke makasih banyak yaa Bagas, Wendy. Entar ane nyusul kok berenangnya, sekarang kalian-kalian dulu saja, ane nak buang air dulu yaa....” sambil menutup pintu kamar mandinya.

Ucap Bagas dan Wendy “Siap kak...!, kami duluan...” berjalan meninggalkan TA di toilet

   Di ruang tamu, semua teman-teman bermain ini segera meluncur ke kolam renang dengan berganti pakaian dengan memakai pakaian renangnya untuk melaksanakan acara berenang bersama, olahraga voli air, juga untuk mandi pada sore harinya jam 15:25 sore, dibawah terik matahari yang hangat. Wendy beserta dengan teman-teman bermainnya pun bisa sepuasnya menikmati liburan panjang mereka sebab sudah lamanya mereka bekerja, belajar, dan melakukan segala aktivitas atau rutinitas sehari-harinya. Sedangkan si TA, ia sedang buang air dengan sedikit lama karna ia menahan buang air saat berada di Bogor takut akan penangkapan senyap oleh pihak kepolisian.

Ocehan TA “Mereka sedang asyik-asyiknya berenang dan bermain voli air sesuka mereka, hehehehe...., tetapi apakah mereka bisa melindungi gua dari kejaran polisi?, Hmm.... mudah-mudahan, semoga saja...!!, mereka dijamin mengamankan gua dari kejaran para cecunguk-cecunguk polisi munafik itu, hahahaha....!!!” sambil memainkan pistol jenis magnum bernama Colt Anaconda miliknya, juga mendengarkan suatu bisikan-bisikan gosip oleh teman-teman bermain Wendy yang sedang membicarakan tentang pengejaran TA sampai ke tanah Sukabumi tersebut.

   Setelah si TA buang air di kamar mandi, ia pun segera keluar untuk berkumpul bersama-sama dengan teman-teman bermainnya yang sedang berenang dan bermain voli air juga berfoto-foto ria disana “Tap..., tap..., tap...”.

Oceh si TA lagi “Apalagi gua tipe orang yang senang melihat seksi barat dan oriental, pokoknya seksi luar negeri, hahahaha....!! baguslah kalau begitu, gue langsung bermain dengan mereka, hehehe. mereka akan jadi mangsa gua, auuww...!!, auww....!!, auuww...!!” sambil berjalan menujunya dengan menyembunyikan sebuah pistolnya di dalam celana renang dan baju kaos putihnya

   Pada saat di kolam renangnya, semua teman-teman bermainnya pada bersorak-sorak memanggil TA ikutan bermain voli air bareng-bareng juga latihan berenang bersama, namun si TA (Toby Agustian) tidak mengindahkan sorakan panggilannya, dan disinilah semua teman-teman bermainnya pada terkejut.

Ujar Rando dan Randu “Tadi barusan dia senang bergaul ama kita, kenapa sekarang malah jadi kacau macam ini?”

Juga ujaran dari Galih dan Livia “Iya benar, mengapa engkau, Toby malah jadi begini...?, kamu kecapean bukan....?”

Ucap Bagas dan Wendy “Mending Kak Toby nggak perlu paksain diri ikut renang dulu, beristirahat dulu saja di kamar tidur yang tersedia juga...”

   Tiba-tiba si TA pun melakukan sesuatu hal yang ekstrim dan tidak biasa dilakukan oleh orang-orang bijaksana, yakni tindakan penodongan dan peneroran terhadap teman-teman bermainnya dengan memakai pistol magnum Colt Anaconda pada tangannya “Set!”, dan mengokangkan pistolnya “Klik!, klik!”. Terus semua teman-teman bermainnya pun terkejut atas tindakan TA yang secara tiba berubah drastis, kemudian teman-teman ini pun segera menanyakan sikap hal tersebut.

Tanya Bagas dan Wendy “Kak Toby..., mengapa kakak jadi begini sikap kakak terhadap kami...?, itu pistol punya siapa kakak?” terkejut sangat oleh perubahan perilakunya

Dan tanya Galih dan Livia juga “Iya bro..., kenapa engkau bisa bersikap kepada kami seperti ini?, lalu apa salah kami kepadamu, Toby?, kami sudah mengasihimu baik-baik, kok..., terus mengapa kamu bersikap teganya kepada kami dengan menodong begini?” dengan berani.

Jawaban dari TA “Dengar yah...!, dengar yah...!, dengar yah...!, sekali lagi dengar yah...!, dengan yang begituan saja nggak cukup, bodoh!, pokoknya semua keinginan gua masih banyak, masbro...!, pokonya gua pengen yang ini, gua pengen yang itu ajah, bisakah kalian mengasihiku terlebih lagi, haaa...!!?” sambil menodongkan teman-temannya dengan pistolnya

Bisik Rando dan Randu “Gila banget nih orang!?, kita kan udah baik-baik mengasihi dia yang menggelandang di jalan, nggak tahunya dia memang rampok yang jadi buronan polisi tea, yaa kan bro...?, tahu-tahunya dia malah menodong kita macam nih...!” kepada Galih dan semua teman-temannya

Titah TA kepada Bagas yang sedang mengemil hotdog itu “Gas..!,gas..! sini hotdog loe, kesiniin hotdognya, donk...!, loe nggak hargai gue bertitah bukan, haa..!?, loe enaknya saja nggak dengerin instruksi titah gua...!!” dengan bengis dan tak berbelas kasih

Bagas pun mengasihinya dengan tulus hati “Ini kak...!, hotdog gue buat kakak saja!, gue ikhlaskan saja demi kakak yang kelaparan makanan....” dengan tangan kanannya

   TA mengambilnya dengan paksa dan memakannya “Nyam.., nyam.., nyam...”, dan ia juga pun keluarkan titahnya yang memaksa kepada teman-temannya, yaitu selanjutnya kepada Wendy pula, ia memaksa Wendy mengasihi semua uangnya yang di dompetnya juga gadged miliknya, dan yang terakhir, Rando dan Randu pun melakukan hal yang sama seperti Wendy, mengasihi gadged dan dompet isi uang-uangnya kepada TA, terus inilah reaksi Wendy dalam menghadapi TA yang sifatnya berubah drastis!.

Reaksi Wendy “Ini kak, ane juga berikan hape ane dan dompet serta uang-uangnya demi kakak yang kelaparan bukan hanya kebutuhan primernya saja, tetapi akan kebutuhan sekundernya pula, udah yaa kak, ane mengasihimu...” dengan iklhas juga walau agak takut

Dan ujar TA “Oke thanks girl..!, gua doakan semoga loe, Wendy akan jadi calon pacar dan istri simpanan gua nantinya, dari langkah sekarang...!” dengan memaksanya

  Moment inilah Galih dan Livia bergandengan tangan untuk segera keluar dari kolam renangnya dalam keadaan berpakaian renang yang basah menuju kedalam ruang tamu untuk mengambil handphonenya untuk melaporkan kejadian penodongan dan peneroran ini kepada pihak kepolisian terdekat “Splash..!”, dan berjalan cepatlah mereka berdua ini kedalam rumah villanya “Tap...!, tap...!, tap...!”, saat itu si TA pun mengejar-ngejar langkah mereka dari belakang dengan mengarahkan pistolnya kepada mereka “Tap..., tap..., tap...”, sambil mengunci pintu keluar dari kawasan outdoornya “Jklek!”.

Ujar Galih “Livia..., sebelum dia datang menemui kita, cepat-cepatlah hubungi polisi terdekat!, dia sangat berbahaya!” sambil memegang gadgednya

Dan ucap Livia “Oke Galih, kita laporkan semua kejadian ini, mumpung si Toby belum menemui kita!” memegang gadgednya sama seperti satu temannya ini

  Namun saat TA sampai pada ruang tamunya yang becek, dua teman bermain ini telah berhasil melaporkan kejadiannya kepada pihak kepolisian yang terdekat, hal ini membuat si TA menjadi amat beringas dan kehilangan sifat kasih dan kemanusiaannya. Ia tak segan-segan membunuh seorang Galih dengan pistolnya “Dor!, dor!”, dalam keadaan kepalanya berlubang akibat tertembak peluru, dan kemudian ia berjalan dengan pistolnya menemui Livia di dalam kamar mandi karna sembunyi dari dirinya, dan Livia pun sama seperti Galih, ia merelakan berkorbankan nyawanya demi keselamatan keempat temannya yang masih didalam kolam renang villanya, berupa mempersilahkan dirinya untuk diperkosa secara brutal dengan segala cara “Dor!, dor!, dor!”.

   Usai pembunuhan terhadap kedua teman bermain ini, ia langsung menaikan celana renangnya dan menyembunyikan pistolnya kedalam baju kaos putihnya, ia tak lupa untuk menyeretkan kedua mayat dua temannya tersebut keluar dari rumah villa. Lalu ada tiga orang wanita warga negara asing dari Mongolia yang melintasi rumah villa yang bagus ini segera melaporkan kepada pihak kepolisan sebelum si pelaku penembakan itu keluar dan menghabisinya!.

Laporan dari ketga wanita asal Mongolia ini “Hello police...!, in this villa we’re heard the sound of shooting, we also heard the scream of a woman in this villa, on Sukaraja street, help us, it's dangerous here” (Halo polisi...!, di villa ini kami mendengar suara penembakan, kami juga mendengar suara jeritan seorang wanita di villa ini, di jalan Sukaraja, tolonglah kami, disini berbahaya) dengan menggunakan gadgednya untuk melaporkan kejadian perkara penembakan tersebut kepada polisi

  Di dalam kawasan kolam renang villa tersebut, TA menyeret-nyeretkan jenazah Galih dalam keadaan kepala dan punggungnya berlubang akibat terjangan peluru dan jenazah Livia dalam keadaan mulut berbusa kemerahan juga ada darah dari bagian bawahnya akibat tertembak oleh pistolnya, kehadapan mereka berempat “Jbyurrr...!”, lalu TA berkata kepada mereka berempat dengan lancangnya.

Kata TA “Dua orang ini tadi saja binasa dengan tragis macam nih dalam sekejap!, akibat mengajukan diri kepada polisi!, lalu apakah kalian berempat sedia binasa menuju ke alam baka dengan keadaan seperti ini!?, maukah kalian, haa...!?. Oke-okelah masbro, kalau tak mau menderita binasa macam keduanya ini, kalian bersegeralah masuk kedalam villa ini!, naik ke lantai atas dalam keadaan berpakaian renang macam tuh!” sambil mengancamnya

Bentak Rando “Heh sia...!!, loe udah gila yah!?, nggak waras bukan!!?, kami baik-baik ama loe, malah dibalas dengan pistol??, memangnya kami salah apa ama loe, haa!!?”

Dan bentak Randu juga “Memangnya kami community free s*x apa!!?, nggak usah sok-sok petugas aparat dech...!!, dasar otak diktat*r loe...!!”

Dan tawa jahat TA “Hohohoho...., itu gelar pujian yang paling indah sangat, masbro....!?, gue paling senang dengan gelar itu, hohohoho.... mak eun....” mengokangkan pistolnya

Kemudian Bagas dan Wendy memotong ucapannya “Maknyusnya kakak membunuh kedua teman kami bukan, kak...!?, kalau kakak ingin bunuh kami berdua ini juga bisa saja kok, toh kami juga rela mati demi menegakkan kebaikan dan keadilan, dibandingkan bekerja sama dengan tukang pembunuh macam kakak!!” dengan betapa geramnya hati mereka ini

Balas TA “Cik!, uwalaaahhh.... gua ogah bunuh kalian!, gua maunya membiarkan kalian hidup-hidup sebagai budak-budak s*ks yang gua sewa ke luar negeri!, dan permintaan kalian berdua kepada gua yang tadi..., gua tolak!, dan sekarang cepatlah masuk kedalam villa!, naik ke lantai atas!, hayo cepat naik ke atas!, huh... apa boleh buat, haa...!!?” dengan menyeret paksa dari luar kolam renang itu dan mendorongnya kedalam rumah villa tersebut.



Chapter III

Menuju Titik Maut Bersama Tim Pasukan Elit

    Pada malam harinya, memasuki jam 20:00 malam, keempat teman-teman bermainnya yang dibiarkan hidup tersebut sudah terikat dengan tali rafia yang mengerat dan kencang, ditambah lagi dalam keadaan berpakaian renang yang masih basah pula yang ia simpan di dalam kamar tidur lantai atas “Hrrmmmpphhh...., hrrmmmpphhh...., hrrmmmpphhh....”, sedangkan pihak kepolisian se-Jawa Barat pun bersegera untuk menghubungi pihak pertahanan dari aparat Tentara Nasional Indonesia untuk mengerahkan Tim Pasukan Elit Kopassus yang ditugaskan menuju ke tempat kejadian perkara tersebut dengan senyap, cepat, dan tanpa diketahui oleh seorang TA si pelaku pembunuhan dan nara pidana buronan kepolisian setempat di kota Sukabumi!.

    Seterusnya si TA pun segera menginterogasi mereka berempat dalam keadaan yang terikat dan nafas yang hampir tertutup dengan keras.

Ujar TA “Hehehe..., memangnya enak diikat seperti ini, apa...!? Aing lebih dari kalian, aing dipenjara sampai nggak dapat jatah waktu makan dan istirahat, cooyy!!, klo kalian berempat masih mendingan disini, udah di villa yang bagus, megah, dan berfasilitas lagi, hohohoi..., ditambah lagi kalian masih aing beri jatah makan dan istirahat, klo aing... udah ditempatkan di sel penjara yang padat, kumuh, sempit lagi kapasitasnya, bro.., bro...”  mengejeknya.

   Mulai memasuki jam 23:00 hampir tengah malam, tanpa TA sadari, di daerah jalan Sukaraja datanglah dua unit jeep Humvee corak loreng digital warna hijau army yang gelap dan samar milik Tim Pasukan Elit Kopassus aparat TNI berjalan cepat “Vruuuummm.....”, dan sampailah dua mobil jeep Humvee tersebut di tempat kejadian perkara ini dalam waktu yang cepat dan efisien “Ciiitt...!”, lalu semua anggota Tim Pasukan Elit berjumlah enam orang ini bergegas keluar dari mobilnya dengan mengambil persenjataan mereka yang amat lengkap, berupa sebuah jenis senapan assault rilfe, yaitu Pindad SS1 V-5 Moded dari mobil mereka “Grab..., grab..., grab...”.  Mereka berenam ini telah sedia bertugas memasuki villa ini untuk menghabisi TA si pelaku teror dan penembakan itu juga menyelamatkan keempat sandera berpakaian renang yang disekap di dalam kamar villanya, dengan berseragam loreng hijau army digital plus topi baret merah dan rompi kevlar PVC loreng warna hitamnya “Tap..!, tap..!, tap..!”.

Perintah komando dari Kpt. Ferry “Baik..!, sekarang kalian berdua, Aiptu Mario dan Aiptu Galuh silahkan kearah perkebunan sekalian menghubungi pihak Sabhara dari aparat kepolisian....” sambil berbisik-bisik demi kenyamanan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Dan sahut Aiptu Mario dan Aiptu Galuh “Siap 86, kapten..! Kami laksanakan..!” dengan berbisik-bisik juga

Perintah komando dari Kpt. Ferry dan Letda Emelda “Kalau anggota tim pasukan elit macam kalian berempat, Ast. Lettu Reza, Ast. Lettu Naomi, Ast. Letda Cho En Liu dan Ast. Letda Khalid, kalian bersama dengan kami berdua, Kpt. Ferry dan Letda Emelda, sudah jelas kan instruksinya dan ada suatu pertanyaan...?” berbisik-bisik lagi

Dan sahut keempat anggotanya “Siap 86, tidak ada kapten!” dengan berbisik-bisik

Letda Emelda pun segera mengeluarkan suatu titah “Kalau begitu, kita ikuti Kpt. Ferry mendobrak paksa pintu rumah villa itu!” dengan mempersiapkan senjatanya

   Dengan hal ini membuat TA si pelaku teror tersebut semakin memuncakkan sifat kesal, marah, murka, dan  jengkel, serta panik, lalu ia tak ada kesempatan untuk memberanikan untuk berbuat apa-apa selain hanya bergumam saja.

Gumam TA “Hadeukh...!!, mampus gua!!, mampus aing!!, huh... ini maakkhh...!!, udah beraninya kerahkan aparat TNI Kopassus buat nyusup kesini, udah bukan cecunguk-cecunguk polisi lagi pula!!?” sambil marah-marah jengkel dan menuju ke kamar villanya
Saat berada di dalam kamar villa.

Gertak TA “Woi kalian semuanya!, jangan pura-pura tidur, apa pura-pura mati kalian!!?, dengekeun aing dulu...!!, dengekeun aing dulu...!!, saha nu call polis kadiyeu!?, apa kau adik perempuan cantik, Wendy, atau kalian bertiga lelaki-lelaki mental tempe!?, haa...!!? hayo jawab, biawak bakar!!” dengan menodongkannya

Dan jawab mereka berempat “Bukan kami, kakak paradoks...!!” dengan mulut tertutup

  Di momment inilah membuat TA makin geram seperti bara api yang menyala-nyala, ia pun langsung menginterogasi Wendy terlebih dahulu :

Gertak TA “Woi Dik Wendy...!, apakah kau yang calling polis itu!?, jawablah dik cantik dan imut yang duduk di pangkuan Kak Toby..., hehehe” sambil mengusap-usap wajahnya

Dan jawab Bagas dan Wendy “Kakak gila yah!?, bukan kami yang calling polis disini, kakak mabok sih, heuuhh....!!” dengan mulut yang tertutup

Balas Rando dan Randu “Iya betul...!, si Toby mabok waek kerjaannya, makanya dia cepat pikun lebih dari lanjut usia...!!” dengan mulut tertutup juga

TA pun menabok ketiga lelaki tersebut secara bergilir “Otak biawak, kau...!!”
  
    Usai menabok ketiga lelaki tersebut, TA pun memulai memisahkan Wendy untuk digiring keluar dari villa, entah untuk dibunuh, dipindah ke tempat lain ataupun diperlakukan sebagai alat pelecehan seksual. Ia menyeret Wendy keluar dengan secara paksa “Zrrttt....!”, TA juga takkan lagi memperdulikan semua tangis dan jeritan Wendy yang ada ditangannya, ia langsung membawanya keluar menuju pintu keluar pada halaman outdoor area kolam renang tersebut sebelum tim pasukan menghabisnya. Dan kemudian, datanglah Tim Pasukan Elit Kopassus tersebut mendobraknya dengan keras “Bruaakkk...!!”, dan pasukan ini pun berbaris demi buddy system dalam melaksanakan tugas besarnya “Tap..., tap..., tap...” sambil bercakap-cakap dengan memakai radio systemnya.

Laporan dari Kpt. Ferry “Sector clear!” memakai radio systemnya.

Dan sahut Letda Emelda “Affirmative, sir!” dengan radio system juga.

Balas keempat anggota timnya “Roger that, sir!” menggunakan radio systemnya.

Titah Kpt. Ferry “Nice work, team!, sekarang kita saatnya berpencar dalam menggeledah satu ruangan bangunan villa ini!” pakai radio systemnya.

Balas semua anggota timnya “Baik kapten!, kami laksanakan!, kami mohon diri!” dengan memakai radio systemnya.

   Berpencarlah mereka berenam sesuai dengan taktik strateginya, Kpt. Ferry menuju ke kamar mandi, Letda Emelda menuju ke ruang dapur dan kolam renang, Ast. Lettu Reza masuk ke ruang tamu plus ke lantai atas periksa ruang karaoke, Ast. Lettu Naomi, Ast. Letda Cho En Liu, dan Ast. Letda Khalid menuju ke lantai atas, yaitu ke kamar tidur, sedangkan nasib Wendy yang berada diujung tangan TA yang menyekapnya, ia tanpa henti menjerit tangis terus-menerus. Wendy juga diluar villa diperlakukan oleh TA dengan bengis secara apapun yang ia kehendaki di dalam pikirannya!.

Jerit Wendy “Jangan sentuh aku, kakak...!, kakak mau apa denganku...!?” dengan mulutnya yang tertutup juga merasa kesal dengannya.

Geram TA “Uwalaahh...!!, diam saja loe, gadis cantik, gadis imut duduk dipangkuan Kak Toby ini!!, seharusnya kau senang dijadikan sebagai pacar dan istri simpanan gua!!” menyekap seorang Wendy secara zalim dengan penamparan pada bagian telinganya sebanyak dua kali tamparan juga dengan melucuti paksa celana pada pakaian renangnya untuk menelanjangi setengah tubuhnya. 

Jerit Wendy lagi “Jangan kakak...!, please, jangan kakak...!, please, aku mohon kakak...!, jangan sentuh aku dengan tangan-pikiran kotormu, kakak...!, stop kakak, no way kakak...!, stop mempermainkanku seperti mainan boneka bayi, kakak...!, heuuhh...!!, lepaskan aku dari tangan dan pikiran kotormu itu, kakak...!!, lepaskanlah aku, kakak....!!!” dengan mulut yang tertutp juga sambil merengek menangis.

Terus kepanikan TA mulai memuncak “Diam ajah loe, dik..!, loe hanya buat gua muak dan panik saja. Otak biawak bakar!, merepotkan saja...!!, sekali lagi loe buat gua panik, pistol colt gua telah menancap dan bertanya kepada belakang bawahan loe disini, sayang...., hihihi” sambil menodongkan pistolnya kearah belakang bagian bawahannya.

  Lalu saat memasuki kamar tidur tersebut, ketiga lelaki ini tak malu-malu untuk menjerit meminta pertolongan dengan semangat, dan tanpa ragu serta takut akan dianiaya, diintimidasi, diancam-ancam, apalagi sampai dibunuh oleh TA si pelaku teror tersebut.

Jeritan Rando, Randu, dan Bagas “Mas...!, mas...!, mbak...! tolonglah kami, tolongilah kami...!, kami sanderanya TA si pelaku teror!” dengan mulutnya yang tertutup.

  Lalu kedua anggota tim pasukan elit ini langsung melepaskannya, serta satunya lagi, yaitu Ast. Letda Cho En Liu memberi suatu isyarat agar tetap tenang dan tidak panik dengan memakai jari telunjuk kanannya.

Ujar Ast.Letda Cho En Liu “Ssshhtt...!, kalian bertiga harap tenanglah!, jangan panik!, jangan bimbang, ragu, dan takut!, kami aparat tentara TNI, teman polisi, bukan teman penjahat!”

    Tak lama kemudian ada laporan dari Letda Emelda bahwa ia telah menemukan mayat dua teman bermain Wendy, Galih dan Livia dengan keadaan berpakaian renang pada kolam renangnya kepada kelima anggota timnya :

Laporan dari Letda Emelda “Di kolam renang villa ini..., Letda Emelda telah menemukan dua jasad orang berumuran dewasa muda, terdiri dari sepasang laki-perempuan yang terapung di air kolam renang, mohon kerja sama semuanya, ganti...!” dengan radio systemnya.

Kpt. Ferry pun menerima laporannya dari kamar mandi “Saya terima, ganti...!” dengan menggunakan radio systemnya.

Kemudian Ast. Lettu Reza berkomando “Hello Naomi, Cho En Liu, dan Khalid, kita saatnya berkumpul ke area kolam renang!, kita saatnya bawalah semua sandera itu keluar villa!, ini komando perintah dari Letda Emelda dan juga dari Kpt Ferry dari kamar mandi” mengajak anggota timnya keluar dari kamar villanya bersamaan dengan sanderanya

Sahut ketiga anggota timnya “Siap 86!, kami laksanakan...!” dengan menepukkan pundaknya

   Keempat anggota tim ini berjalan menuju ke kolam renang bersama dengan ketiga sandera ini “Tap..!, tap..!, tap..!”, dengan berhati-hati sebab mereka juga belum tentu memastikan keberadaan TA si pelaku teror tersebut. Di area kolam renang, tim pasukan elit ini kembali berkumpul lagi menjadi enam anggota lagi, persis waktu sebelum memasuki villa ini, disinilah ketiga sandera ini melaporkan :

Laporan dari Rando dan Randu “Kami bertiga dipisahkan oleh si pelaku secara paksa, dan sebenarnya kami berempat, namun keberadaan teman perempuan kami, Wendy namanya, diseret keluar paksa oleh pelaku, dan....” dengan lantang tanpa rasa takut

Dilanjutkan oleh Bagas “Kami mendengar persis suara jeritan tangisan Wendy, teman perempuan kami..., persis sangat di daerah kolam renang dan secara paksa keluar dengan pintu outdoor area kolam renang villa ini..., itu saja laporan kami, mas..., mbak...”

Titah dari Kpt. Ferry “Pokoknya semua tugas melumpuhkan si pelaku, itu bagian urusan kami, tim pasukan elit Kopassus saja, kalian hanya tinggal tenangkan diri dan diam sajalah, are you okay?” menyarankannya.

Dan balas ketiga lelaki ini dengan semangat “Siap komandan!, siap 86!” sambil bersalaman

  Usai berbicara bersama dengan ketiga sanderanya yang telah diselamatkan, keenam anggota tim pasukan elit ini segera membuat yel-yel dengan melingkarkan diri sambil menyatukan telapak tangannya.

Aba-aba dari Kpt. Ferry “Who are us!?”

Sorak semuanya “We are the Komando Pasukan Khusus......!” suaranya yang menggelegar

Aba-aba Kpt. Ferry lagi “Kopassus..!?”

Dan sorak semuanya “URA......!!!” dengan suara yang menggelegarkan jiwa

   Tim pasukan elit Kopassus ini keluar dari area kolam renang rumah villa ini lewat pintu outdoornya, tak lagi memasuki villanya lalu keluar “Tap..., tap..., tap...”,  sesaat tim pasukan elit yang menyelamatkan Rando, Randu, dan Bagas, ketiga lelaki ini keluar dari Villa, tiba-tiba mereka melihat sosok TA si pelaku teror yang sedang berteriak-teriak mengajak bergulat sekalian merusak-rusakan martabat harga diri kewanitaan Wendy kepada anggota tim pasukan elit oleh si pelaku ini :

Teriakan TA berkali-kali “Hello cecunguk baret merah!, apa loe semua nak gelut ama gua..!?” dengan menggertaknya juga sambil menyekap Wendy

Komando dari Kpt. Ferry “Kita semuanya..., tetap tenang dan santai dalam menghadapi si pelaku teror berbahaya macam ini, jangan banyak menjerit-jerit, dan inilah jiwa dan mental kita sebagai tim Komando Pasukan Khusus TNI” kepada kelima anggotanya

Dan sahut kelima anggotanya “Siap kapten!, kami laksanakan!” sambil mengarahkan senapan serbu Pindad SS1 V-5 moded-nya kearah TA

Teriak TA kedua kalinya “Hahahahai....!!, berani-beraninya kalian bertiga , lelaki jiwa tempe panggil-panggil dan bersembunyi di baik bayangan tim baret merah yang beraninya main peluru doank...!!” sambil mengarahkan pistolnya kepada anggota tim pasukan elit

Sedangkan semua anggota tim pasukan elit Kopassus menenangkan jiwa ketiga lelaki ini agar tidak terhanyut emosi “Kalian bertiga calm down saja!, itu Toby si pelaku teror biar kami yang mengurusinya saja!, dan penyelamatan Wendy si gadis imut yang hampir diperkosa itu, bagian urusan tugas kami juga, are you okay, brother?” dengan berbisik-bisik

Dan ucap Rando, Randu, dan Bagas “Oke siap, kapten!” berjabat tangan dengan tenang

Kemudian TA berteriak lagi yang ketiga kalinya “Hohohohoi....!!!, daripada kalian main ama peluru ke gua, mending gua ajak kalian cecunguk baret merah main ama cewek gadis remaja ini ajah, gua jamin, gua bayarin dech kalian-kalian dengan sebanyak 999.000.000,- juta dan sekalian ajah gua bayarin dengan 1,5 miliyar, sebagai upah aksi heroik patrotisme kalian-kalian, hohohoi...!!, maukah kalian para cecunguk baret merah??” sambil menodongkan pistol Colt Anaconda-nya kearah wajah Wendy

Ucap Letda Emelda “Ini mah..., belum seberapa dibandingkan dengan teroris kelas kakap yang sesungguhnya, tenang sajalah...!, Toby si pelaku teror ini hanyalah bocah ceungengesan saja!, dia mau-maunya ajak-ajak kita antar-jemput ke titik maut, sama ibaratnya seperti bermain boneka bayi!” kepada anggota timnya

Dan lanjut Ast. Lettu Reza dan Ast. Lettu Naomi “Hmm..., kita sebagai tim pasukan elit terpercaya oleh bangsa-negara kita sudah terbiasa hadapi musuh macam ini!, anggap saja hadapi dia seperti hadapi bocah geng motor yang hanya seupil nyalinya, tak usah anggap dia macam hadapi musuh negara kelas kakap, paham...?”

Dan seru semua tim anggota pasukan elit ini “Siap, paham...!” sambil mengarahkan senapan senrbu Pindad SS1 V-5 moded-nya kepada TA lagi

Ocehan TA kepada tim pasukan elit ”Sudahah...!,  kalian gadaikan saja senapan elit kalian masing-masing, lebih baik kalian lupakanlah tugas-tugas penting kalian, dan sini loe semua!!, bareng gua mainin gadis ini, Wendy si pacar dan istri simpanan gua disini saja!, hahaha, ini semua kan hak milik Yang Maha Kuasa, uwahahahahai....!!!” dengan mudahnya sok belagak kepada tim pasukan elit tersebut, juga mempermainkan daerah kewanitaan Wendy secara seksual yang diperlihatkan kedepan muka ketiga teman lelaki bermainnya.

Dan balas ucapan dari Wendy kepada TA “Enak saja, kakak ini.... berbicara dengan mudahnya sok belagak kepada tim pasukan elit negara!, memangnya dia pikir aku mau yaa, semua martabat kehormatan kewanitaanku dibeli dengan harga yang murah dan dapat didiskon dengan mudah?, apalagi dia beraninya sembarangan membawa-bawa nama Tuhan lagi, aku tetap mengharapkan semua janjiMu, Tuhan..., walaupun aku terdesak oleh si tangan ideologi Iblis naga tua ini, kuingin imanku dalamMu tetap berjalan selalu, amin...” di dalam hatinya yang sudah pasrah atas keadaannya yang semakin kritis di ujung cengkraman tangan dan semua perbuatan bengis serta asusila TA

Muncullah titah dari Kpt Ferry dan Letda Emelda “Hello Toby Agustian...!, mohon lepaskanlah seorang Wendy si gadis imut itu dari tanganmu!, dengan sesopan-sopannya....” dengan posisi menembak TA

Titah kedua dari keempat anggota tim pasukan elit Kopassus “Kalau kau ingin berlagak dengan kami, apalagi kau udah sembarangan bawa-bawa nama Tuhan kehadapan kami..., sebaiknya kau lepaskan segala tangan-pikiran kotormu dari gadis imut yang kau rampas semua martabat kehormatan kewanitaan gadis itu terlebih dahulu!, lepaskanlah dengan sebijak-bijaknya...” dengan posisi menembak TA

Titah Kpt. Ferry yang kedua kalinya “Kalau kau tidak mau...., itu semua keputusanmu menuju titik maut!, dan kami tak segan-segannya menghabisi nyawamu paksa atau kami lumpuhkan dirimu sekalian melepaskan Wendy si gadis imut tersebut dari tanganmu secara paksa...!” dengan mengarahkan senapan serbunya kearah tangan dan kaki TA

Jawab TA “Enak saja masbro...!!!, gua dapatin Wendy si gadis imut jelita macam nih, dengan hasil kerja keras dan banting tulang gua sendiri, masbro..., masbro... uwenak’eeehhh, kalau saja gua melepaskan tangan gua dari si gadis imut jelita ini...!!!” semakin bersikap beringas

   Setibanya usai TA berdebat dengan keenam anggota tim pasukan elit Kopassus ini, datanglah kedua tim inteljen ternama ini, Aiptu Mario dan Aiptu Galuh yang bersenjatakan jenis SMG MP5 Silencer ini yang barusan menggeledah semua isi rumah TA bersama-sama dengan tim patroli Sabhara kepolisian kota Sukabumi tersebut langsung bergerak dnegan cepat dan kecakatan “Drap..!, drap..!, drap..!” sambil bertitah :

Teriak Aiptu Mario dan Aiptu Galuh “Toby Agustian!, Jangan bergerak!, diam ditempat!” bertitah dengan berani dan gagahnya

Dan kepanikan TA “What the....!!” dengan tangan kanannya yang mengancungkan pistolnya kepada tim patroli Sabhara dan kirinya yang secara tiba-tiba melepaskan seorang Wendy si gadis remaja imut yang ia sekapnya begitu saja

   Disinilah tim pasukan elit Kopassus dari pihak TNI tersebut segera menembakan senapan serbu Pindad SS1 V-5 moded-nya “Dederederedet!!”, dan seorang gadis imut yang disekap oleh si TA ini langsung berlari kehadapan pihak tim pasukan elit Kopassus dalam keadaan telanjang pada bagian bawahannya “Drap..!, drap..!, drap..!”, dan seluruh tim patroli Sabhara kepolisian juga keempat anggota tim pasukan elit Kopassus yang laki-laki berjumlah empat orang bersegera mengunci badan dan memborgol kedua tangan TA si pelaku teror secara bersamaan “Grrkkk...!” “Cring..!, cring..!”, kemudian digiringlah sosok TA kedalam mobil patroli Sabhara Ford Ranger jenis pick up “Drap..!, drap..!, drap..!”.

Ocehan dan ancaman dendam TA “Awas saja kau Wendy dasar gadis sok imut!, sok pintar!, lihat saja pembalasan gua di alam baka dan akhirat nanti!!” diucapkannya dalam hati dengan perasaan yang semakin beringas pula

    Sekarang nasib Wendy si gadis remaja imut yang sehabis disekap dan diperkosa oleh sosok TA si pelaku teror rumah villa tersebut, ia segera diamankan oleh kedua personil tim pasukan elit Kopassus TNI wanita, Letda Emelda dan Ast. Lettu Naomi, juga oleh seorang tim inteljen polwan, Aiptu Galuh kedalam kamar tidur lantai atas, dan mereka bertiga ini tanpa basa-basi menutupi daerah kehormatan wanita Wendy dengan selembar kain handuk putih yang diberikannya.


Titah Letda Emelda, Lettu Naomi, dan Aiptu Galuh "Dik Wendy...!, ananda boleh tutupi auratmu pakai handuk putih dari mbak-mbak tim pasukan elit ini" dengan tersenyum

Wendy pun mengambilnya "Iya mbak, makasih banyak mbak..." tersenyum hangat sambil terharu karena aksi heroik penyelamatan yang dilakukan mereka kepadanya

Aiptu Galuh pun memeluknya dengan erat "Dik Wendy..., anda tak usah khawatir lagi, yaa dik... kan mbak-mbak petugas ini sudah ada untuk melindungimu dari tangan lelaki pelaku, yaa kan..."

Begitu juga Letda Emelda "Iya dik Wendy..., tidak perlu galau dan bersedih hati lagi yaa..., kami tim petugas akan segera mengantarkanmu sekalian kepada orang tuanya masing-masing, kok..."

Dan ujaran kasih Lettu Naomi dan Aiptu Galuh "Sedangkan tugas kami bertiga sama-sama melayani dan mengayomi masyarakat seperti seseorang gadis remaja sepertimu, Wendy, iya nggak....?, eh itu mah tugas utamanya Aiptu Galuh, yaa...." bercanda dengan bijaksana dan sambil memberikan Wendy sebuah jaket parka panjang hangat warna biru untuk menutupi seluruh bagian privasinya

Balas Wendy "Iya mbak..., pokoknya mbak-mbak semuanya sama saja kok, hiks..." sambil ingin menangis akibat traumanya

  Seterusnya gadis imut seperti Wendy ini langsung melampiaskan tangisannya kepada ketiga anggota tim aparat yang telah menyelesaikan tugasnya, menyelamatkan masyarakat dari gangguan ilalang-ilalang pengganggu masyarakat, sebab ia masih agak takut dan trauma akan peristiwa kehidupan hari esok dan masa depannya yang akan datang. 

    Lalu bagainama yang ketiga teman lelaki bermain Wendy, yaitu Rando, Randu, dan Bagas, satu lagi, begitu pula keadaan jenazah Galih dan Livia yang terbuang di kolam renang villa tersebut?, mereka seperti biasa di data oleh keempat anggota tim pasukan elit Kopassus pria dan seorang tim inteljen kepolisian, Aiptu Mario di dalam bangunan rumah villa yang mereka singgahinya, di dalam ruang tamu, sedangkan urusan jenazah Galih dan Livia itu diserahkan kepada pihak tim medis ambulance, dinas pemadam kebakaran, dan Basarnas (Badan Search and Rescue Nasional) untuk diotopsi dengan perawatan khusus pada rumah sakit yang terdekat, sekalian dihubungi kepada pihak keluarganya masing-masing yang rindu kepulangan mereka berdua ini, dan kemudian berdukalah keluarga kedua orang ini dengan air mata tangisan yang deras.


Tanya seorang Kpt. Ferry "Kalian bertiga yang lelaki..., awal peristiwa peneroran di villa ini, gimana saja kalian ceritakan, dari awal sampai akhir, kami ingin tahu saja, brothers..." dengan humblingnya yang dibagikan dengan hangat kepadanya

Dan jawab Bagas "Awalnya orang itu...,kami nggak tahu entah dia itu menggelandang di jalanan atau dia juga sama seperti kami, kami sewa dan piknik ke villa ini...."

Jawab Randu "Kami juga awalnya belum mengenal orang itu dari kota mana, ternyata ia dari Bogor sehabis pelarian dari pengejaran polisi dari Depok, gitu mas...."

Kemudian Lettu Reza, Ast. Letda Khalid, dan Aiptu Mario bertanya pula "Ohh..., hmm yaa yaa..., tetapi kalian mengetahui dia si Toby Agustian itu buronan dari siapa, dan dari manakah sumbernya kalian mengetahui hal tersebut...?" sambil menenangkan diri ketiga lelaki teman bermain Wendy ini


Rando menjawab "Kami mengetahui awal tentang dia itu..., dari seorang Livia, teman bermain kami yang pernah melihatnya saat ia merampok seseorang anak kecil dengan sebilah celuritnya di sekitar kota Depok, dan itupun kami diberitahukan saat melakukan aktivitas olahraga renang dan voli air..."

Lalu ujar Bagas dan Randu "Iya benar, mas... Makanya mengapa dia membunuh dua teman bermain kami, Kak Livia dan Kak Galih secara brutal ditempat, sebab kedua kakak-kakak teman bermain kamilah yang jadi saksi si TA itu seorang buronan polisi, kami agak geram juga ama kelakuan dia, udah kami mengasihi dia dengan sesantun-santunnya, dia berubah drastis menjadi brutal secara tiba-tiba gitu, mas..." dengan agak trauma

Lanjut Rando "Yang pertama dia menodong dan meneror kami saat aktivitas renang, seluruh barang-barang kepunyaan kami dirampas paksa, juga membunuh kedua teman kami pula, yang kedua menyekap kami dan menganiaya kami dengan bengis, dan yang terakhir dia menggiring tambah lagi memperkosa si Wendy, teman perempuan bermain kami yang satu-satunya sekarang ini, secara paksa dia merampas semua martabat harga diri kewanitaannya Wendy, dengan memainkan alat kemaluannya sampai muncrat-muncrat gitu, mas..." agak kesal 

Lanjut Bagas pula "Itu pun dalam keadaan tanpa bercelana, mas.... itulah simbol dia sengaja melampiaskan olokannya tersebut agar kami terpancing emosi olehnya, dan yang paling terakhir lagi, yaa... Puji Tuhan akhirnya dia berhasil dilumpuhkan tim Kopassus dengan sigap serta diringkus oleh tim patroli Sabhara" agak trauma juga

Ujar Ast. Letda Cho En Liu "Kebangetan juga sih, si pelaku itu.. dia udah terjerat perampokan, pelarian dari hukuman penjara, peneroran, pembunuhan, penganiayaan, juga pemerkosaan lagi, wah, wah, wah.. makanya kami tim Kopassus TNI ditugaskan untuk kesini, iya tidak?" geleng-geleng kepala

Dab sahut Rando, Randu, dan Bagas "Iya mas..." dengan tenang

     Pada esok hari minggunya, usai ibadah raya yang letakanya di suatu gereja yang cara ibadahnya pakai musik modern, GMS Provider Sukabumi, Wendy segera diantarkan oleh kedua orang tuanya untuk dipulihkan dengan ditumpang tangkan serta di doakan oleh seorang pastor dari gembala induknya asal Surabaya, Ps. Philip Mantofa karna rasa traumanya kemarin semalaman yang agak parah.

Doa dari Pastor Philip “Tuhan Yesus...., Engkau berikanlah kekuatan dan pengharapan di dalam Engkau untuk selamanya kepada juniorMu ini, Wendy.... yang semalaman hari sabtunya ia telah menjadi korban teror dan pemerkosaan oleh seorang pelaku tersebut, dan kiranya Engkau ampunilah juniorMu ini, Wendy selalu Engkau bungkuskanlah di dalam kuasa darahMu dan syafaatMu, syafaat Roh KudusNya, dengan segenap ridhoMu, Tuhan, allah Bapa pencipta kami...., kiranya Engkau berikanlah syafaat bagi tim aparat yang semalaman menyelamatkan nyawa gadis remaja ini yang macam Wendy ini, kiranya Engkau juga berikanlah syafaat Roh KudusMu agar si pelaku benar-benar bertobat dan menerima Engkau sebagai Juruselamat, serta diberi ampunanNya selalu.... Agar roh-roh jahat yang membuat Wendy ini kepahitan dan putus pengharapan di dalamMu, Engkau patahkanlah dan leburkanlah di dalam kuasa nama Tuhan Yesus Kristus, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, haleluya, amen...” dengan menunpangkan tangannya
  
    Agar Wendy mendapat masa depan yang tidak sama seperti yang peristiwa semalaman, begitu cerah, dan berpengharapan dalam Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus juga diverivikasi oleh seorang psikolog di kantor polisi, bagian ruang pelindungan wanita dan anak-anak. Dan saat esok lusa rabunya, Wendy pun dapat kembali bersekolah dan bergaul lagi bersama teman-temannya dengan tenang, aman, tentram, dan damai sejahtera atas segala kuasa dan syafaat dari pencurahan Roh Tuhan Yang Maha Esa, walau terkadang ia diselimuti oleh sedikit rasa ketakutan dan ketidakpercayaan diri, bahkan sampai ingin mencoba bunuh diri sebanyak tiga kali dengan ingin menggantung diri dalam sehari alias tidak se-instant apa yang orang tua dan semua keluarga besarnya pikirkan.

Ucapan syukur Wendy “Terima kasih, Tuhan Yesus, maha suci Engkau, Allah penghibur dalam sepanjang hidupku... hanya kuasa darahMu dan syafaatMu-lah yang dapat memulihkan segala aspek dalam kehidupan ini, dalam nama Tuhan Yesus, amen...” saat telah memasuki hari rabu, hari ia kembali bersekolah dengan damai

   Sedangkan kehidupan TA (Toby Agustian), seorang pelaku teror rumah villa ini juga ia terlibat perampokan terhadap anak-anak dibawah umur pula saat ia berada di kota Depok, ia telah dipindahkan dan ditempatkan dalam kamp penjara Pulau Nusakambangan, konsenkuensinya ia harus menerima tindak hukuman mati dengan dijerat pasal 340 KUHP yang sesuai diputuskan oleh pihak pengadilan yang berbunyi :

"Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun."

   Dengan dibarengi fasilitas penjagaan yang cukup ketat, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa bertemunya dengan mudah!.



                                                            THE  END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar