Minggu, 27 November 2016

Manusia Setengah Kumbang Goliath!

By : Husain Umar AR.


Tokoh :

Kak Eko

Ketua OSIS di SMA Kuncup Harapan yang berasal dari keturunan seseorang panglima tentara yang memiliki badan kekar berotot keras seberti batu, kulit putih, hidung mancung, berumur 17 tahun, pintar memahami tentang politik, hukum dan militer, namun ia bersikap yang sangat belagu, songong, tukang sogok, dan korupsi.

Kak Faiz

Siswa ketua komunitas pecinta musik gitar di SMA Kuncup harapan yang memiliki postur sedang, badan kurus, berkulit putih bersih, cerdas, dan bersikap dermawan kepada seluruh teman sekolahnya yang berumur 17 tahun, serta memiliki model rambut yang berwarna kuning seperti orang-orang Eropa dari sejak lahir.

Kak Rizka

Siswi ketua komunitas ahli kimia SMA Kuncup Harapan yang berpostur agak montok, berumur 17 tahun, suka berkerudung, kulit putih campur merah, dan bersikap agak tegas namun berperasaan.

Kak Shanji

Siswa ketua dari suatu komunitas pecinta bahasa Rusia di SMA Kuncup Harapan yang memiliki postur standard, badan tinggi, kuning kulitnya, dan gesit cara bersosialisasi kepada orang-orang, serta berumur 17 tahun.

Zaidan

Siswa anggota komunitas bela diri Kateda di SMA Kuncup Harapan yang suka pacaran dengan Melati yang berpostur sedikit kuntet, berkulit kuning, mata sipit, dan berambut keriting, umur 16 tahun, serta berbadan kurus.

Melati

Siswi provokator yang memicu aksi demo Gebyar SMA di kota Rangkasbitung yang berkulit kuning, postur standard, umur 16 tahun, serta memiliki bakat olahraga basket di SMA Kuncup Harapan.



*******



Sesi I

Pembahasan Gebyar SMA Se-Rangkasbitung

Pada suatu hari di kota Rangkasbitung, dan latar waktunya pada jam 13:00 siang, seluruh anak-anak di lingkungan SMA Kuncup Harapan tersebut dipulangkan karena ada pembahasan tentang acara Gebyar SMA kota Rangkasbitung yang akan dibicarakan oleh sang walikota.

Sang Walikota : “Assalamu’alaikum Warohmatullahi wabarokatuh…!”

Seluruh Guru dan Anggota OSIS : “Wa’alaikumsalam Warohmatullahi wabarokatuh…!”

Sang Walikota : “Yak..!, hari ini saya akan memberikan sebuah pengumuman untuk
                          acara gebyar SMA di kota Rangkas disini, boleh…?”

Bu Kepala Sekolah : (Dengan ramah) “Ya..!, silahkan saja, bapak…”

Sang Walikota : “Baik.., makasih banyak ibu kepala sekolah…, acara gebyar SMA kota
                         Rangkas ini akan dimulai pada tanggal 11 Desember 2016..!”

Kemudian seluruh anggota OSIS dan para komunitas siswa-siswi yang lainnya pun pada bersorak dengan bahagia.

Seluruh Anggota OSIS dan Komunitas Siswa Lainnya : “Hore…!”

Bu Kepala Sekolah : (Menenanginya) “Sssht…!, udah dulu yaa.., murid-muridku yang
                               pintar dan budiman…, sekarang kita dengarkan penjelasan dari
                               bapak walikota Rangkasbitung ini dulu, oke..!?”

Kak Faiz, Kak Rizka, dan Kak Shanji : “Iya bu..!”

Dan seterusnya sang walikota tersebut kembali meneranginya.

Sang Walikota : “Jadi.., acara gebyar tersebut untuk senantiasa kita sebagai warga kota
                         Rangkasbitung bisa bersaing dengan warga kota lainnya dengan secara
                         sehat dan baik, serta menjadi kota yang paling berkualitas dimata
                         orang-orang lain..!, oleh karena itu saya memohon diantara kalian
                         semuanya untuk mengikuti lomba-lomba yang kami daftarkan disini..!”
                         (Sambil memegang naskah daftar acara Gebyar SMA itu)

Para Anggota OSIS dan Guru-Gurunya : “Iya pak..!”

Dan usai rapat Gebyar SMA se-kota Rangkasbitung itu, kemudian Kak Eko, sang ketua OSIS tersebut diberi kepercayaan oleh sang walikota Rangkas itu.

Sang Walikota : “Hai kakak OSIS..!”

Kak Eko : “Iya…, ada apa bapak..!?

Sang Walikota : “Saya memohon anda tolong titipkan uang-uang saya ini yang sebesar
                          Rp.15.000.000.00,- ini kepadamu…!”

Kak Eko : (Agak munafik) “Iya pak.., dengan anda menitipkan uangnya kepada saya,
                dijamin nggak akan hilang..!”

Sang Walikota : (Dengan menepuk pundaknya) “Oke..!, makasih banyak yaa kakak OSIS
                        yang baik hati…”

Kak Eko : “Iya pak..!, sama-sama…”

Pas pulang dari sekolahnya, ia langsung mengurung diri di kamarnya untuk menghitung uang titipan dari sang walikota tersebut.

Kak Eko : “Hmm…, duit titipan ini banyak sekali, fufufu…!” (Berniat jahat)

Lalu ia segera ambil setengah persennya dari uang titipan dari sang walikota tersebut sebesar Rp15.000.000.00,- itu dengan rasa bangga yang berlebihan, dan ia pun akhirnya menggunakan uang titipan sebesar Rp7.000.000.00,- tersebut untuk membeli satu botol serbuk ganja ke sebuah usaha bandar narkoba yang tinggal di kota Lampung, dan seterusnya ia pakai juga untuk bermain game online di warnet sepuasnya.

Dan saat bulan depannya, hari Jum’at, dan pukul 10:50 siang, seluruh siswa-siswi sekolah SMA Kuncup Harapan pada pulang menuju kerumahnya masing-masing “Kriingg…!!”.

Kak Eko : (Tawa jahat) “Hihihi..!, setelah gue jajan pake duit gede itu…, saatnya gue
                ganti the big of money-nya dengan sebesar Rp8.000.000.00,- yang udah gue
                tabungkan lewat wesel ini..!” (Sambil menghitung uang titipan tersebut)

Tiba-tiba muncullah dua adik kelasnya tersebut langsung di depan pandangannya “Set!”.

Adik Kelas I : “Permisi kak…!”

Kak Eko : “Iya dik.., ada apa sih…!?”

Adik Kelas I : “Kakak bisa mendapatkan duit sebesar macam itu dari mana, kak…?”

Adik Kelas II : “Iya kak..!, kakak orang kaya, yaa..”

Kak Eko : “Iya dik.., saya memang orang kaya…!, kan saya ini cucunya Panglima
                 TNI..!”

Adik Kelas I dan II : “Hah…!?, memang kakak cucunya Panglima TNI, yaa…!?”

Kak Eko : “Iya cuk.., hebatkan kakak OSIS ini…?!”

Adik Kelas II : (Agak curiga) “Ya…, kakak sangat hebat…!, tetapi kakak nggak bohong
                       kan kalo kakak punya uang sebanyak itu dari warisan kakeknya…”

Kak Eko : (Berbohong) “Hmm.., ya iyalah dik…, semua uang ini merupakan warisan dari
                leluhur gue, dan kalo saja uang ini hasil pencurian.., yang ada dikejar-kejar
                polisi, lalu gue udah nggak ada disekolah ini, Hehehe…!”

Adik Kelas II : “Ssshht…!, udahlah kalo begini kami mau pulang dulu, yaa…!”

Kak Eko : (Menepuk pundaknya) “Oke bro..!, tetapi kalian hati-hati di jalan…!”

Adik Kelas I dan II : “Iya kak…!” (Tersenyum)

Kedua siswa adik kelas 1 SMA Kuncup Harapan tersebut akhirnya pulang dengan tenang menuju kerumahnya masing-masing “Tap.., tap.., tap..”. Dan seterusnya Kak Eko pun segera memasuki uang korupsi sebesar Rp8.000.000.00,- itu pada tas ranselnya “Sret..!”.

Kak Eko : “Huff.., untung gue nggak dicurigai ama mereka…!” (Dengan sombong)

Lalu ia pun akhirnya pulang juga dengan menaiki mobil Toyota Alphard hijau yang telah menjemputnya dengan tepat waktu “Bruum…!”.



*******



Sesi II

Demo Gebyar SMA se-Rangkasbitung Dimulai!

Pada malam harinya, ia memakan nasi goreng dengan sosis kambing, dan sayur selada yang menjadi menu makan malam dirumahnya sambil tersenyum licik serta dengan menuliskan sebuah naskah pidato untuk acara gebyar SMA tersebut.

Kak Eko : (Menuliskan naskah pidatonya) “Kalo dengan begini saja.., gue pasti menang
                di acara gebyar SMA nich, udah gue menjadi ketua OSIS lagi, hehehe…!”
                (Memakan nasi goreng dengan sosis kambingnya)

Usai makan malamnya, ia langsung pergi ke kamarnya dan ia pun tertidur dengan lelap sambil tengkurap “Zzz..!”.

Saat bulan depannya, tanggal 11 Desember 2016, dimulailah sebuah acara Gebyar SMA se-Rangkasbitung tersebut dengan meriah “Blaa.., blaa.., blaa..”. Kak Faiz, Kak Shanji, dan Kak Rizka pun segera menemui Kak Eko yang sedang berjanjian dengan sang bapak walikota itu.

Kak Rizka : (Terbangun dari duduknya) “Oh iya Iz.., Nji.., dimana si Eko…?”

Kak Shanji : (Menunjuknya) “Itu si Eko..!, lagi ngobrol ama bapak walikota..!”

Kak Faiz : “Ya sudahlah kita kesana saja, yuk…!” (Menepuk pundaknya)

Mereka bertiga pun langsung saja menuju ke sang walikota tersebut dengan agak cepat untuk memanggil Kak Eko untuk mendiskusikan soal perlombaan dalam acara gebyar itu. Dan kemudian saat ia berjanjian dengan sang walikota, tiba-tiba ada suara teriakan dari ketiga teman-teman terbaiknya. Hal tersebut membuat sang walikota ingin tahu.

Sang Walikota : “Eko.., siapa tiga orang itu. Apakah mereka temanmu…?” (Bertanya)

Kak Eko : (Menjawab dengan lantang) “Iya bapak..!, mereka itu teman saya…”

Sang Walikota : “Sekarang kamu kesana dulu sajalah.., temanmu itu sudah memanggil-
                         mu berkali-kali…!”

Kak Eko : “Oke pak.., saya duluan…!”

Dan kemudian Kak Eko pun langsung berjalan menghampiri ketiga teman terbaiknya.

Kak Eko : “Ada apa, Ris…!?”

Kak Rizka dan Shanji : “Lomba pidato sebentar lagi akan dimulai…!”

Kak Eko : “Iya Nji.., Ris.. Tadi gue latihan baca pidato di depan pak walikota dulu…!,
                 biar hasilnya elite dan berkualitas, yaa kan Faiz..!”

Kak Faiz : “Oh iya donk…, pokoknya semoga saja sekolah kita yang juara…!”

Semuanya : (Dengan bersorak) “Amin..!”

Lalu acara gebyar tersebut telah dimulai pada jam 09:00 pagi, seluruh siswa-siswi SMA satu kota Rangkasbitung itu pada berkumpul di suatu lapangan yang begitu luas seperti padang gandum “Blaa…, blaa…, blaa…”.

Mereka berempat yang sempat berdiskusi untuk mencapai kemenangan yang memuaskannya, kini mereka harus berjuang sendiri-sendiri demi mengharumkan nama baik SMA Kuncup Harapan, yaitu dengan menghadiri semua perlombaan yang mereka minati pada hari ini. Terutama Kak Eko, ia telah menghadiri perlombaan membaca pidato dengan suaranya yang merdu dan lembut, sehingga membuat hati para lovers-nya pada terikat kepadanya.

Dan pada hari keduanya, Kak Eko dan ketiga teman-teman terbaiknya menghadiri lomba pentas seni musik band yang beraliran musik Rock. Dengan memiliki suara yang keras dan menggetarkan satu kota tersebut. Itupun juga membuat hati para lovers-nya terikat lagi dengan kehebatan bakat seni musik tersebut.

Sesampainya pada hari ketiga, yaitu hari pengumuman para juara yang meraihkan sebuah prestasi atas acara gebyar itu, jatuhnya pada tanggal 11 Desember 2016, ketiga teman-teman terbaik Kak Eko tersebut, seperti Kak Riska, Kak Shanji, dan Kak Faiz telah mengharumkan nama baik SMA Kuncup Harapan untuk satu kota Rangkasbitung, karena mereka sudah menjadi sosok juara satu yang terbaik atas acara gebyar itu.

Sang Juri : “Baik!, sekarang hari ini adalah hari pengumuman para juara atas acara
                  Gebyar SMA se-Rangkasbitung, dan sekarang saya sebutkan sosok juara
                  yang terbaik ini, yaitu ada sebuah grup musik Rock yang kemarin telah
                  dipentaskan oleh Kak Eko dan kawan-kawan dari SMA Kuncup Harapan..!”

Para Loversnya : “Hore…!!, hidup Kuncup Harapan..!, hidup Eko…!”

Lalu diberikanlah piala emasnya kepada mereka berempat masing-masing dari sang jurinya. Namun kecuali ada seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi juara satu bakat pidato dan musik Rock-nya tapi malah membuat nama baiknya hilang.

Sang Juri : “Oke…, tadi Kak Eko meraihkan juara satu atas lomba pentas seni musik
                  Rock bersama teman-teman terbaiknya, yaa kan Eko…!?”

Kak Eko : (Dengan sombong) “Iya bu.., sayalah juara dari segalanya, teman-teman…!”

Mendengar hal itu membuat si Melati dan kawan-kawanya pada kesal dan muak atas kemenangan Kak Eko, sang ketua OSIS nya sendiri.

Melati : (Dengan kesal) “Apa-apaan sih si Eko…!, bisa-bisanya meraih juaranya dengan
            cara curang, dasar cowok nggak tahu malu..!” 

Zaidan : (Ingin tahu) “Memangnya ada apa sih, Mel dengan Kak Eko..?”

Melati : “Kakak OSIS itu mah…, harusnya nggak bakalan jadi juara satu…!, kalo dia
              nggak bermain sogok-menyogok terhadap bapak walikota kita, Dan..!, tetapi
              malah udah takdirnya dia juara dengan kalung berlian sogokannya, bego…!”

Zaidan dan semua teman-temannya : “Yaa udahlah.., kita demo aja tuh orang, dengan
                                                       spanduk kita masing-masing yang dibawa dari
                                                       rumah usai pemberian piala berlian kepada Kak
                                                       Eko yang sombong itu…”


Melati : (Berbisik-bisik) “Oke Dan.., gue berterima kasih banyak kepada loe.., semoga
             dengan aksi demo ini kita akan menang di pengadilan…!”

Semua teman-temannya : (Berbisik-bisik) “Amin…!”

Tak lama kemudian sang jurinya pun memberikan Kak Eko sebuah piala berlian yang lebih berharga dibandingkan beberapa uang miliyaran rupiah, dan reaksi seluruh siswa-siswi yang menghadiri acara Gebyar SMA se-Rangkasbitung langsung muncul secara tiba-tiba.

Melati : “Woi..!!, ibu juri lomba gebyar..!, turunkan Kak Eko sang diktator sekolahan
              itu..!!”

Zaidan : “Yang meraih juara I lomba pidato itu harusnya Kak Shanji…!!, bukan diktator
               sekolahan itu..!!, yuk kita sama-sama turunkan Kak Eko si manusia setengah
               kumbang goliath itu…!!, takbir…!”

Para Temannya : “Allahu Akbar…!, serbu…!!”

Seluruh siswa-siswi SMA se-kota Rangkasbitung tersebut segera berjalan menuju ke sebuah panggung gebyar itu dengan bergerombol sambil mengucapkan takbirnya, dan saat itu semua para guru dan body guard bersenjata Kak Eko langsung menghadangnya di depan Kak Eko, dan ia pun segera menembaki ke atas udara dengan pistol D-Eagle itu.

Body Guard I : (Menahan dorongan dengan senapannya) “Heh adik-adik…!, bubar
                       kalian..!!, cepat bubar dari sini, atau kami akan tembak kalian semua…!!”

Body Guard II : “Adik-adik nggak bisa begitu, donk..!, Kak Eko jelas peraih juaranya..!!”
                          (Sambil menendang Melati dan kawanan siswa-siswi itu)

Zaidan : “Kami ini bukan siswa pendemo, pak..!!, melainkan kami ini kelompok jihad
              melawan sang manusia setengah kumbang goliath macam si ketua OSIS itu..!!”

Melati : “Iya..!, karena dia memang tukang korupsi sekligus dia telah menyogok sang
              bapak walikota kita semua dengan satu kalung berlian itu..!!, demi ia dijadikan
              sang juara dalam lomba pidato dengan secara tidak halal..!!” (Dengan TOA)

Zaidan : “Dan juga dia telah menjatuhkan derajat Kak Shanji yang seharusnya menjadi
              juara I lomba pidato dalam bahasa Rusia dengan kalung berlian yang busuk itu,
              kata-kata si Melati ini adalah 100% nyata..!!”

Lalu para guru dan kepala sekolahnya pun memenanginya.

Para Gurunya : “Iya.., iya.. Kami juga tahu kalau kalian semua itu benar…!, tetapi kalian 
                        semua mengapa dengan melakukan hal macam begini saat di dalam acara
                        gebyar ini…?, ini sama dengan mengacaukan kedamaian kota ini…”



*******



Sesi III

Ketua OSIS Berhasil Ditangkap!


Para Kepala Sekolah : “Yaa benar kata bapak ibu guru sekalian…, tetapi kenapa engkau
                                  juga ketua OSIS, Kak Eko…, menjual harga dirimu sebagai laki-
                                  laki yang tampan dengan sekalung berlianmu kepada sang bapak
                                  walikota untuk dijadikan sang juara pidato acara gebyar demi
                                  kesuksesanmu sendiri…?” (Dengan kecewa)


Lalu Kak Eko pun berkata dengan kesal terhadap seluruh siswa-siswi yang mendemonya.

Kak Eko : (Dengan mikrofonnya) “Untuk kalian siswa-siswi SMA Kuncup Harapan,
                mengapa kalian selalu ingin senangnya mencari-cari keburukan ketua OSIS
                nya sendiri…!, itu sama saja dengan pengkhianatan, tahu!!, kalian saja yang
                memfitnah gue…!”

Seluruh siswa-siswi yang terlibat di acara gebyar tersebut pada menyolotnya, terutama yang bersekolah di SMA Kuncup Harapan. Lalu Kak Eko, ia pun segera menyuruh para siswa pendemo itu untuk menunjukan bukti-bukti yang sesungguhnya.

Kak Eko : “Kalo kalian semua yang merasa 100% benar..!, coba tunjukan bukti-buktinya
                 bahwa gue suka korupsi, dan juga suka nyogok pak walikota untuk dijadikan
                 sang juara lomba pidato kesini…!!” (Dengan kasar)

Tetapi reaksi para siswa-siswi yang mendemonya tersebut semakin memperolok-oloknya dengan menyolotnya lagi dengan menimbulkan dampak yang lebih parah. Pada sesaat itu sang jurinya pun langsung menenangi seluruh kawanan siswa-siswi dengan bersikap yang lebih halus supaya konflik tersebut bisa diredakan dengan baik.

Sang Juri : (Dengan halus) “Halo adik-adik sekalian..!, saya harapkan kalian semua
                  tenang terlebih dahulu…!, kalo dengan begini terus, tak akan ada habisnya..”
                  (Memakai mikrofonnya)

Para Siswa-Siswi : “Iya bu…!”

Sang Juri : “Adik-adik sekalian diharapkan bubar dulu karna dengan begini kalian bisa
                  mengganggu keamanan masyarakat di sekitarnya, jadi saya harap para guru,
                  OSIS dan seluruh kepala sekolah di satu kota ini yang memproses Kak Eko
                  yang ganteng ini, yaa…!” (Meredamnya)

Para Siswa-Siswi : (Dengan sangat brutal) “Iya bu…, kami akan bubar saat ini..!, tetapi
                            kalo dia nggak cepat-cepat diadili ke makamah, kami tak segan-
                            segan membunuh Kak Eko si manusia setengah kumbang goliath
                            itu..!!, mengerti nggak bu..!!?” (Memakai TOA)

Sang Juri : “Iya…, iya… kami pihak guru, OSIS, dan kepala sekolah akan mengadili
                  sang ketua OSIS ini secara cepat, tanpa lelet…!” (Dengan mikrofon)

Body Guard I dan II : (Dengan tegas) “Sekarang kalian bubar dari sini…!, cepetan…!!”

Terus kedua body guard itu menembakan senapannya ke atas udara untuk menakut-nakuti kawanan siswa-siswi tersebut “Dor..!, dor..!, dor..!”, dan seluruh kawanan pelajar SMA itu langsung pulang kerumahnya masing-masing tanpa kecuali “Tap…, tap…, tap…”.

Usai seluruh kawanan siswa-siswi yang mendemo Kak Eko tersebut dibubarkan oleh pihak body guard, dan seterusnya ia pun langsung diborgollah kedua tangannya kedepan oleh kedua body guard nya untuk diadili ke makamah militer “Cring..!”. Dan akhirnya sang ketua OSIS tersebut segera dibawa ke pihak polisi militer yang terdekat.

Lalu bagaimana dengan perasaan ketiga teman-teman terbaik Kak Eko dan sang kepala sekolah SMA Kuncup Harapan tersebut..?

Kak Shanji dan Kepala Sekolah : “Kalo saja negeri ini masih saja banyak orang yang
                                                 berbuat kehancuran macam itu…!” (Dengan pusing)

Kak Riska dan Kak Faiz : (Dengan pusing) “Apa kata dunia…!?”




 SELESAI