Cerpen
: Lari!
Untuk 18 +
Tokoh Utama :
TA
Nama Asli : Toby Agustian
Umur : 19 Tahun
Pekerjaan : Perampok, Tukang teror
Ciri dan Watak : Badan kurus, kulit putih, ganteng,
namun tidak punya belas kasih dan kejam
Status : Antagonis
Tokoh Pemain:
Bagas
Umur : 19 Tahun
Pekerjaan : Penjual pulsa
Ciri dan Watak : Badan kurus, kulit sawo matang,
rambut keriting, dan humbling
Status : Protagonis
Livia
Umur : 23 Tahun
Pekerjaan : Karyawan mall
Ciri dan Watak : Badan tinggi dan montok, kulit
kuning, rambut warna cokelat, dan
pemberani
pemberani
Status : Protagonis
Galih
Umur : 23 Tahun
Pekerjaan : Asisten apoteker
Ciri dan Watak : Badan tinggi, kulit putih
kemerahan, hidung agak mancung, dan pemberani
Status : Protagonis
Wendy
Umur : 16 Tahun
Pekerjaan : Siswi SMA
Ciri dan Watak : Badan pendek, kulit putih, imut,
berambut pony, dan agak gugup
Status : Protagonis
Rando
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Guru sains SMA Negeri
Ciri dan Watak : Badan agak kekar, kulit kuning
kemerahan, rambut kribo, dan lembut
Status : Protagonis
Randu
Umur : 23 Tahun
Pekerjaan : Anggota komunitas bikers se-pulau Jawa
Ciri dan Watak : Badan agak kekar, kulit kuning
kemerahan, rambut kribo, dan agak kencang
nada bicaranya
nada bicaranya
Status : Protagonis
Tim Patroli Kepolisian
Roselyne
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Polwan, pangkat Aiptu
Ciri dan Watak : Badan langsing, kulit kuning, rambut
se-bahu, bersenjata, dan antusias
Status : Protagonis
Wilsen
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Polisi, pangkat Aiptu
Ciri dan Watak : Badan tegap, kulit putih, rambut
cepak, bersenjata, dan cekatan
Status : Protagonis
Tim Inteljen Kepolisian
Galuh
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Polwan, pangkat Aiptu
Ciri dan Watak : Badan langsing, kulit putih
kekuningan, berjilbab, bersenjata, serta cepat
nada bicaranya
nada bicaranya
Status : Protagonis
Mario
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Polisi, pangkat Aiptu
Ciri dan Watak : Badan tegap, kulit putih kehitaman,
rambut gundul, bersenjata, serta kuat
Status : Protagonis
Tim Kopassus TNI
Ferry
Umur : 36 Tahun
Nama Asli : Ferry Mantofa
Pekerjaan : TNI, pangkat Kapten
Ciri dan Watak : Badan kekar, kulit kuning
kehitaman, rambut botak, bersenjata lengkap,
namun periang
namun periang
Status : Protagonis
Emelda
Umur : 33 Tahun
Nama Asli : Emelda Simanjuntak
Pekerjaan : TNI, pangkat Letda
Ciri dan Watak : Badan montok, kulit putih
kemerahan, rambut se-bahu, bersenjata lengkap,
cantik jelita tetapi tegas, namun berperasaan
cantik jelita tetapi tegas, namun berperasaan
Status : Protagonis
Reza
Umur : 30 Tahun
Nama Asli : Reza Sihar
Pekerjaan : TNI, pangkat Ast. Lettu
Ciri dan Watak : Badan kekar, kulit merah kehitaman,
rambut cepak, bersenjata lengkap,
kuat, dan sangar
kuat, dan sangar
Status : Protagonis
Naomi
Umur : 30 Tahun
Nama Asli : Shintya Naomi
Pekerjaan : TNI, pangkat Ast. Lettu
Ciri dan Watak : Badan montok, kulit putih
kekuningan, rambut model pony se-punggung,
bersenjata lengkap, cantik imut, dan pemberani
bersenjata lengkap, cantik imut, dan pemberani
Status : Protagonis
Cho
En Liu
Umur : 30 Tahun
Nama Asli : Liong Cho En Liao Putera Siliwangi
Pekerjaan : TNI, pangkat Ast.Letda
Ciri dan Watak : Badan kekar, kulit kuning, rambut
gondrong pony, bersenjata lengkap, kuat,
agak sadis, dan gesit
agak sadis, dan gesit
Status : Protagonis
Khalid
Umur : 30 Tahun
Nama Asli : Khaleed Bin Raden Gajahmada
Pekerjaan : TNI, pangkat Ast. Letda
Ciri dan Watak : Badan kekar, kulit merah, rambut
klinis, bersenjata lengkap, kuat, gagah,
dan humbling
dan humbling
Status : Protagonis
******
Cerita ini hanyalah fiksi, tidak ada hubungan dengan nama orang, tempat, dan suatu kejadian, realita, atau peristiwa yang sebenarnya
Chapter I
Duel Maut Dengan Tim Patroli!
Pada
jam 11:00 siang bolong di kota Depok, muncullah seseorang pria yang berinisial
TA, dengan nama aslinya (Toby Agustian) yang berbadan kurus dan ganteng yang
berlari-lari kencang “Tap, tap, tap, tap...”, ternyata pria tersebut sehabis
merampok dompet anak perempuan se-umuran Sekolah Dasar yang dibiarkan menangis
menjerit sampai merasuki jiwanya di pelukan seorang ibu kandungnya, sambil
membawa sebilah celurit asli madura yang amat runcing. Pada saat di dalam suatu
gang yang sepi dan jarang dikunjungi.
Tawaan
TA “Wuahahaha...!!, akhirnya aku
dapat gopek ribu, wahaha...!!” sambil terengos-engos dan juga mengambil uang di
dalam dompet tersebut
Namun
tak lama kemudian datanglah sebuah mobil patroli kepolisian sedan Ford Focus warna abu-abu yang sedang
berhenti di belakangnya “Ciiittt....”, hal seperti itu membuat TA lari
terbirit-birit “Tap, tap, tap, tap...”, tim patroli ini pun tidak langsung diam
dan terus mengejarnya “Wiuuww....!!!”, dan sesampai di jalan yang buntu, TA pun
berhenti dan tim patroli pun segera memojokinya.
Perintah
Aiptu Wilsen kepada TA “Hei, jangan bergerak kau!, buang celuritmu di jalan!,
kami polisi!, mengapa kabur dari pemeriksaan kami!?, kau rampok yah..!?” menodongkan
pistol Desert Eagle-nya
Kemudian si TA pun langsung menendang
pistolnya dan membanting Aiptu Wilsen ketanah “Buaakk..!!”. Melihat itu Aiptu
Roselyne tidak tinggal diam, ia pun langsung mengambil sepucuk senapan Spas 12
dari mobil patrolinya “Klik!, klik..!”, dan menembakinya sebagai tanda
peringatan saja “Dor...!”, “Klik!, klik..!” sebanyak dua kali, akan tetapi
tidak diindahkan oleh TA tersebut, melainkan TA malah semakin beringas dan
berhasil mengunci Aiptu Roselyne dengan sekejap “Grab..!”.
Seru
Aiptu Roselnye “Wilsen!, ambil nih senapan!” sambil melemparkan senapan
tersebut
Dan
sahut Aiptu Wilsen “Baik komandan!”
mengambilnya
Tak lama itu seorang Aiptu Roselyne pun
segera menendang dari depan si TA berposisi kearah belakang pada bagian alat
vitalnya “Duakk!!” sambil berkata :
Ucap
Aiptu Roselyne “Rasakanlah kau,
dasar pencuri!”
Dan Aiptu Wilsen pun langsung memukulnya
namun tidak kena. TA berhasil lagi membuang senjata tersebut dari tangan Aiptu
Wilsen dan memukulnya pada bagian perut sebanyak sepuluh kali sambil dibarengi
dengan menyikutnya pula “Bukk!, bukk!, bukk...!”. Ia pun langsung menjerit
minta tolong :
Lalu
seru Aiptu Wilsen “Komandan
Roselyne!, lebih baik ananda ambil Stun
Rod dari mobil, jangan ragu, dan cepatlah lumpuhkanlah si cowok keras
kepala macam ini!” bertahan diri saat dipukuli dengan keras oleh si TA
Sahut
dari Aiptu Roselyne “Baik Wilsen!” bersegera mengambil sebuah Stun Rod dari mobilnya
Lalu diambilnya sebuah tongkat setrum
tersebut “Jleb!”, dalam sekejap Aiptu Roselyne melumpuhkan si TA
“Brrrzzzttt..!!!”, lumpuhlah seorang TA di tempat dan ditambah lagi diborgol
oleh Aiptu Wilsen dengan kencang, dan digiringlah ia kedalam mobil patroli
tersebut “Jleb!”, dan ditutuplah pintu mobilnya “Blam!”.
Chapter II
Pelarian
Satu
setengah bulan kemudian, TA berhasil meloloskan diri dari suatu bagungan kamp
penjara kota Depok, dengan diiringi oleh betapa kencangnya suara alarm darurat
“Toeett...!!!”, entah dengan bagaimana caranya ia akan pulang menuju ke kota
Bogor, walau dalam keadaan jadi seorang buronan. Waktu sesampainya di kota
Bogor, dan di rumah tempat tinggalnya, ia pun segera berganti pakaian tahanan
birunya dengan baju jersey hijau khas Persikabo-nya,
bercelana panjang chinno warna putih,
berjaket abu-abu bahan kulit yang baru dibelinya pada bulan yang lalu sebelum
ia ditahan, dan satu tas selempang warna oranye yang berisi sebuah pistol Colt Anaconda dan sangkur khas Brimob
warna lorengnya yang tersedia untuk keluar kota menuju Sukabumi.
Sorakan
TA “Huff..., akhirnya gua kembali
bereksplorasi!, yahuii...!!” sambil mengaca ke cermin dan merapihkan rambutnya
yang tak terurus tersebut
Usai berdandan, ia pun langsung berangkat
meningalkan rumahnya dalam keadaan rapi dan terurus, kemudian ia buang pakaian
tahanan birunya ke tong sampah “Plung!”, ia pun langsung mengeluarkan gadged Sony Experia pada tangan kanannya untuk
memesan driver online Grab untuk
mengantarnya ke Stasiun Paledang "Bip, bip, bip”. Satu menit kemudian, datanglah
seorang driver Grab ini untuk
mengantarkan TA ke tempat tujuan “Vruumm...”, “Ciiitt...”, berangkatlah TA ke
tujuannya dengan seorang driver online tersebut “Bruuum.....”. Lalu pada jam
11:30 siang, ia telah berada di Stasiun Paledang untuk menunggu kereta api
Pangrango Express dari Bogor ke Sukabumi.
TA
pun mengoceh sendirian “Bentar lagi
keretanya akan datang, hehehe... polisi nggak akan bisa ringkus gua lagi,
hahahaha....!!, selamat tinggal polisi murahan, dan selamat datang urang
Sukabumi, hahaha” sambil duduk di bangku penunggu
Sedangkan pihak kepolisian kota Depok tidak
tinggal diam lagi, mereka segera kerahkan tim inteljen kepolisian kota Bogor menyusup
kerumahnya “Vruumm....”, sebab keseluruhan anggota kepolisian sedang melakukan
penangkapan senyap tanpa diketahui oleh masyarakat umum, dengan memakai mobil
sedan Toyota Yaris hitam dengan
bergerak cepat. Terus sesampainya di rumah TA, tim inteljen ini langsung
bersegera membobol pintu gerbangnya dan mengetuk pintu rumahnya, dengan
bersenjata api jenis SMG (Sub Machine
Gun).
Seruan
dari Aiptu Galuh “Toby Agustian!,
cepat bukakan pintunya!, kami pihak kepolisian!” dengan mengetuk-ngetuk pintu
rumahnya
Namun tak ada satupun suara yang
menjawabnya, dan makin sunyi saja rumah tersebut, lalu mereka periksa rak
sepatu dan sandalnya, dan mereka pun langsung mencoba untuk mengetuknya sekali
lagi.
Seruan
Aiptu Galuh kedua kali “Hello
ganteng...!, ini yang terakhir kalinya, cepat bukakan pintu rumahmu atau tidak...,
kami dobrak masuk paksa!” mengetuk lagi
Gagasan
ide Aiptu Mario “Baiklah Galuh,
sekarang ane yang dobrak pintunya, dan kita sama-sama masuk dan periksa semua
isi ruangan rumah ini!” sambil mengsiapkan sepucuk senapan jenis SMG MP5 Silencer di tangannya
Aiptu
Galuh pun mensetujui gagasan idenya “Kerja bagus, Mario...!, kita
laksanakan!” sambil beraba-aba
Teriak
Aiptu Mario “Hyaaahhh....!!!” mendobrak pintu rumahnya
Pintu
rumah tersebut didobraknya dengan kencang “Bruaakk...!!”, sebab mereka
mendobrak sebuah pintu itu dengan senapan mereka, lalu masuklah mereka
kedalamnya untuk menggeledah isi ruangan rumah tersebut “Tap...,tap...,
tap...”, dari ruang tamunya, menuju ke ruang makan, ke dapur, ke kamar mandi,
hingga ke kamarnya, semuanya sudah mereka lakukan dengan teliti, dan ternyata
tidak ada tanda-tandanya, lalu akhirnya sudah tiga jam mereka tidak mendapatkan
apa-apa selain keheningan rumah dan lingkungan tersebut, dan mereka pun segera
keluar dari rumah tersebut sambil berkata :
Titah
Aiptu Galuh kepadanya “Sudahlah, bro...! kita berbalik lagi ke kantor
polisi....”
Dan
sahut Aiptu Mario pula “Sekalian kita laporkan saja kepada kepala Komisaris
kantor polisi, biar pihak kepolisian segera membentuk kekuatan yang baru untuk
menyergapnya dengan bersama-sama....”
Kata
Aiptu Galuh “Sebab penjahat dan
buronan macam dia lumayan berbahaya, jikalau kita hadapi sendirian, walau dia
tak memiliki komplotan gang untuk melindunginya dari kepolisian!” berjalan
keluar dari rumah itu
Dan
balas Aiptu Mario “Siap 86!, laksanakan!”
dirangkul oleh Aiptu Galuh untuk meninggalkan rumah tersebut dalam keadaan
terdobrak dengan kencang
Pada jam 12:00 siang, kereta api tersebut
berangkat menuju ke Sukabumi, TA menikmati pemandangan alam yang diluarnya
dengan santai dan relax, dibarengi pula dengan mendengarkan musik lagu-lagu
yang ia sukai bersama dengan penumpang yang lainnya pada gerbong yang ketiga.
Gumam
TA “Pekerjaan telah usai, gua bebas
nikmati fasilitas kereta ini tanpa sesal, hehehe....” sambil tiduran
Akhirnya ia tertidur pulas di kursi gerbong
kereta api tersebut dengan lelap karna sudah lamanya satu setengah bulan ia
telah kehilangan hobby menikmati kehidupan yang sesuai keinginannya, dan
disinilah para penumpang kereta api Pangrango Express berkomentar dan
berbincang-bincang dengan agak keras. Tanpa ia sadari waktu ia telah memasuki
suatu daerah kota Sukabumi, yaitu Cigombong, ada segerombolan tim inteljen
kepolisian kota Sukabumi sedang menyamar sebagai komunitas railfans tersebut
langsung mengintainya dari luar gerbong kereta api yang sedang mengejarnya
dengan dua kendaraan sepeda motor sebab kabar keberadaan TA pun belakangan ini
telah disadari saat telah meninggalkan daerah kota Bogor dan kota Depok.
Sebuah
titah dari seorang ketua tim inteljen “Itu
dia, Toby Agustian si buronan dari Depok!, kejar dia jangan sampai dia lolos
keluar Bogor dan memasuki kota Sukabumi....” sambil menunjuk wajahnya yang
terlihat dari luar gerbong kereta api itu
Juga
titah dari wakil tim inteljen “Jangan sampai lolos!, dia penjahat dan buronan
yang amat berbahaya!” sambil memerintahkan jalankan motornya
Lalu
jawab para anggota tim inteljen ini “Siap 86!, kami laksanakan!” sambil
mengejarnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi demi menjalankan tugasnya
Namun tak berhasil juga, dan kereta
tersebut sangat berlaju dengan kencang, hingga anginnya pun hampir menjatuhkan
sepeda motor tersebut “Wuuussshhh......”.
Sesampainya seorang TA ini di Stasiun Sukabumi, ia langsung pesan sebuah
mobil taxi Blue Bird untuk menuju ke
sebuah villa penginapan di daerah Sukaraja, pada jam 15:00 sore. Sesampainya di
suatu villa penginapan yang bagus dan terawat serta pemandangan alamnya yang
masih asri dan terjaga dari berbagai macam polusi, TA pun langsung tertidur
lagi di kursi depan jendela villanya “Hoaaammm.....”.
TA
menguap kelelahan “Ngantuk gua, euy... Huaahh...” tiduran di kursi depan
jendela villa
Tak lama kemudian, muncullah seorang remaja
berumuran 16 tahun keluar dari bangunan rumah villa tersebut dan ia terkejut
ada seseorang lelaki umur 19 tahun menggelandang di kursi villa ini, dan ia
gugup sambil berkata :
Ucap
Wendy “Iii..., ini siapa nih orang?, kok mengapa langsung ada disini tanpa
mengucapkan salam yaahh...?, apa mungkin ia menggelandang beberapa bulan, atau
apakah dia sehabis mabok di jalanan, apa juga mungkin ia rampok....???, uwalah
nggak mungkin ia rampok, bisa saja dia menggelandang sehabis diusir dari
rumahnya, kali.....??? Hmmm....???” agak gugup
Tak lama kemudian, ia pun langsung menyambut
kedatangan seorang TA dengan hangat, tanpa pamrih, apalagi rasa takut akan
dirampok dan diterornya. Saat inilah TA langsung berkenalan dengan Wendy, yaitu
terutama menanyakan nama dan umurnya.
Tanya
TA kepada Wendy “Siapa namamu, dik...?, kelahiran dari mana, dan berapakah
umurmu sekarang, dik...? dengan tersenyum licik
Dan
jawab Wendy “Hello kakak, nama saya Wendy, kak...! umur 16 tahun, kak...., saya
orang asli Sukabumi, kakak...” dengan tersenyum senang
Kemudian
ujar TA “Hmm..., kalau begitu, Dik Wendy..., nama saya Toby, panggil saja saya
dengan singkat, Kak Toby” bersalaman
Ujar
Wendy “Baik kak..., mari saya antarkan Kak Toby kedalam rumah villa ini, yaa...
soalnya lumayan banyak juga nih, teman-teman saya yang bermain disini, kak...”
bergandengan tangan
TA
pun senang hati dengannya “Hihihi...., makasih banyak yaa Wendy, kau baik amat
ama kakak, kira-kira disini ada kolam renang, nggak...?” sambil mencium bau
badannya
Lalu
ujar Wendy “Ada kok, kak... nanti kita berenang bareng kak....” dengan tertawa
riang
Saat ia memasuki rumah villa tersebut
diantarkan oleh Wendy, seluruh teman-teman bermainnya Wendy pun menyahut
kedatangan tamunya dengan hangat, mereka semua saling bersalaman dan membagikan
senyumnya kepada sang tamu ini, TA dengan semangat yang penuh tanpa kecuali. Usai
bersalaman, seorang Galih dan Livia memanggil Rando dan Randu untuk
mempersiapkan makan sore untuk TA yang sehabis perjalanan jauh.
Sapa
Galih dan Livia “Rando..., Randu...”
Dan
sahut Rando dan Randu “Iya Gal..., Livi...”
Titah
Galih dan Livia “Tolong siapkan nasi goreng steak kambing dan susu pisang buat
si Toby, Ndo..., Ndu... soalnya dia udah lapar nih...”
Sahut
Randu “Siap Gal..., Livi...” dengan agak kencang nadanya
Rando dan Randu pun segera memasak nasi
goreng pakai steak daging kambing tersebut, sesuai yang dititahkan teman
bermainnya “Cssshhh....”, juga mempersiapkan susu rasa pisangnya juga dengan
diblender “Tuiiittt....”. Dengan singkat, makanan dan minuman tersebut sudah
jadi, dan diberikan kepada si TA dengan ikhlas hati.
Ujar
Rando “Ini..., nasi goreng steak kambing dan susu pisang sudah jadi, Toby....!”
memberikannya dengan lembut hati dan nada bicaranya
Ucap
TA “Oke thanks brother, Rando...!, Randu...! gue senang hati ama kalian-kalian”
sambil memakan nasi goreng steak kambingnya
Dan
tawa semuanya “Ahahahaha...., iya kami juga senang ama kamu kok, Toby....”
Ajakan
Bagas “Eh bro Toby...!” menyapanya dengan menepuk pundaknya
Sahut
TA “Iyap, ada apa Bagas...?” sambil meminum susu pisangnya
Ajakan
Bagas lagi “Apakah hape loe masih ada pulsanya, nggak?, klo udah habis, mending
beli di gue ajah” dengan sok asyik
Dan
ucap TA “Tak usah lah..., gue masih ada tinggal dikit, tetapi... nggak
apa-apalah, gue beli yang Rp30.000.00-an ajah, boleh nggak?” sambil mengecek
pulsa hapenya
Ujar
Bagas “Ohh boleh saja, bro Toby...!” dengan memasukan pulsa hapenya ke nomor TA
Usai makan dan minum, TA pun ingin buang
air kecil maupun besar diantarkan langsung menuju ke kamar mandi oleh Bagas dan
Wendy “Tap..., tap..., tap...”, saat sampai di ruang kamar mandinya yang bersih
dan terawat, Bagas dan Wendy pun langsung beritahu cara pemaiakan alat mandi
dan buang airnya.
Ujar
Bagas “Disini kamar mandinya bagus-bagus dan canggih....” menunjukan dalamnya
Dan
ujar Wendy juga “Walau tak semewah kamar mandi pada hotel-hotel dan villa
lainnya, kak... pokoknya nikmati saja fasilitas bagus disini, kak...”
menunjukan dalamnya pula
Kata
TA kepada keduanya “Oke makasih banyak yaa Bagas, Wendy. Entar ane nyusul kok
berenangnya, sekarang kalian-kalian dulu saja, ane nak buang air dulu yaa....”
sambil menutup pintu kamar mandinya.
Ucap
Bagas dan Wendy “Siap kak...!, kami duluan...” berjalan meninggalkan TA di
toilet
Di ruang tamu, semua teman-teman bermain ini
segera meluncur ke kolam renang dengan berganti pakaian dengan memakai pakaian
renangnya untuk melaksanakan acara berenang bersama, olahraga voli air, juga
untuk mandi pada sore harinya jam 15:25 sore, dibawah terik matahari yang
hangat. Wendy beserta dengan teman-teman bermainnya pun bisa sepuasnya
menikmati liburan panjang mereka sebab sudah lamanya mereka bekerja, belajar,
dan melakukan segala aktivitas atau rutinitas sehari-harinya. Sedangkan si TA,
ia sedang buang air dengan sedikit lama karna ia menahan buang air saat berada
di Bogor takut akan penangkapan senyap oleh pihak kepolisian.
Ocehan
TA “Mereka sedang asyik-asyiknya berenang dan bermain voli air sesuka mereka,
hehehehe...., tetapi apakah mereka bisa melindungi gua dari kejaran polisi?,
Hmm.... mudah-mudahan, semoga saja...!!, mereka dijamin mengamankan gua
dari kejaran para cecunguk-cecunguk polisi munafik itu, hahahaha....!!!” sambil
memainkan pistol jenis magnum bernama Colt
Anaconda miliknya, juga mendengarkan suatu bisikan-bisikan gosip oleh teman-teman
bermain Wendy yang sedang membicarakan tentang pengejaran TA sampai ke tanah
Sukabumi tersebut.
Setelah si TA buang air di kamar mandi, ia
pun segera keluar untuk berkumpul bersama-sama dengan teman-teman bermainnya
yang sedang berenang dan bermain voli air juga berfoto-foto ria disana “Tap...,
tap..., tap...”.
Oceh
si TA lagi “Apalagi gua tipe orang yang senang melihat seksi barat dan
oriental, pokoknya seksi luar negeri, hahahaha....!! baguslah kalau begitu, gue
langsung bermain dengan mereka, hehehe. mereka akan jadi mangsa gua,
auuww...!!, auww....!!, auuww...!!” sambil berjalan menujunya dengan
menyembunyikan sebuah pistolnya di dalam celana renang dan baju kaos putihnya
Pada saat di kolam renangnya, semua
teman-teman bermainnya pada bersorak-sorak memanggil TA ikutan bermain voli air
bareng-bareng juga latihan berenang bersama, namun si TA (Toby Agustian) tidak
mengindahkan sorakan panggilannya, dan disinilah semua teman-teman bermainnya
pada terkejut.
Ujar
Rando dan Randu “Tadi barusan dia senang bergaul ama kita, kenapa sekarang
malah jadi kacau macam ini?”
Juga
ujaran dari Galih dan Livia “Iya benar, mengapa engkau, Toby malah jadi
begini...?, kamu kecapean bukan....?”
Ucap
Bagas dan Wendy “Mending Kak Toby nggak perlu paksain diri ikut renang dulu,
beristirahat dulu saja di kamar tidur yang tersedia juga...”
Tiba-tiba si TA pun melakukan sesuatu hal
yang ekstrim dan tidak biasa dilakukan oleh orang-orang bijaksana, yakni
tindakan penodongan dan peneroran terhadap teman-teman bermainnya dengan
memakai pistol magnum Colt Anaconda pada tangannya “Set!”, dan mengokangkan
pistolnya “Klik!, klik!”. Terus semua teman-teman bermainnya pun terkejut atas
tindakan TA yang secara tiba berubah drastis, kemudian teman-teman ini pun
segera menanyakan sikap hal tersebut.
Tanya
Bagas dan Wendy “Kak Toby..., mengapa kakak jadi begini sikap kakak terhadap
kami...?, itu pistol punya siapa kakak?” terkejut sangat oleh perubahan
perilakunya
Dan
tanya Galih dan Livia juga “Iya bro..., kenapa engkau bisa bersikap kepada kami
seperti ini?, lalu apa salah kami kepadamu, Toby?, kami sudah mengasihimu
baik-baik, kok..., terus mengapa kamu bersikap teganya kepada kami dengan
menodong begini?” dengan berani.
Jawaban
dari TA “Dengar yah...!, dengar yah...!, dengar yah...!, sekali lagi dengar
yah...!, dengan yang begituan saja nggak cukup, bodoh!, pokoknya semua
keinginan gua masih banyak, masbro...!, pokonya gua pengen yang ini, gua pengen
yang itu ajah, bisakah kalian mengasihiku terlebih lagi, haaa...!!?” sambil
menodongkan teman-temannya dengan pistolnya
Bisik
Rando dan Randu “Gila banget nih orang!?, kita kan udah baik-baik mengasihi dia
yang menggelandang di jalan, nggak tahunya dia memang rampok yang jadi buronan
polisi tea, yaa kan bro...?, tahu-tahunya dia malah menodong kita macam nih...!”
kepada Galih dan semua teman-temannya
Titah
TA kepada Bagas yang sedang mengemil hotdog itu “Gas..!,gas..! sini hotdog loe,
kesiniin hotdognya, donk...!, loe nggak hargai gue bertitah bukan, haa..!?, loe
enaknya saja nggak dengerin instruksi titah gua...!!” dengan bengis dan tak
berbelas kasih
Bagas
pun mengasihinya dengan tulus hati “Ini kak...!, hotdog gue buat kakak saja!,
gue ikhlaskan saja demi kakak yang kelaparan makanan....” dengan tangan
kanannya
TA mengambilnya dengan paksa dan memakannya
“Nyam.., nyam.., nyam...”, dan ia juga pun keluarkan titahnya yang memaksa
kepada teman-temannya, yaitu selanjutnya kepada Wendy pula, ia memaksa Wendy
mengasihi semua uangnya yang di dompetnya juga gadged miliknya, dan yang
terakhir, Rando dan Randu pun melakukan hal yang sama seperti Wendy, mengasihi
gadged dan dompet isi uang-uangnya kepada TA, terus inilah reaksi Wendy dalam
menghadapi TA yang sifatnya berubah drastis!.
Reaksi
Wendy “Ini kak, ane juga berikan hape ane dan dompet serta uang-uangnya demi
kakak yang kelaparan bukan hanya kebutuhan primernya saja, tetapi akan
kebutuhan sekundernya pula, udah yaa kak, ane mengasihimu...” dengan iklhas
juga walau agak takut
Dan
ujar TA “Oke thanks girl..!, gua doakan semoga loe, Wendy akan jadi calon pacar
dan istri simpanan gua nantinya, dari langkah sekarang...!” dengan memaksanya
Moment inilah Galih dan Livia bergandengan
tangan untuk segera keluar dari kolam renangnya dalam keadaan berpakaian renang
yang basah menuju kedalam ruang tamu untuk mengambil handphonenya untuk
melaporkan kejadian penodongan dan peneroran ini kepada pihak kepolisian
terdekat “Splash..!”, dan berjalan cepatlah mereka berdua ini kedalam rumah
villanya “Tap...!, tap...!, tap...!”, saat itu si TA pun mengejar-ngejar
langkah mereka dari belakang dengan mengarahkan pistolnya kepada mereka
“Tap..., tap..., tap...”, sambil mengunci pintu keluar dari kawasan outdoornya
“Jklek!”.
Ujar
Galih “Livia..., sebelum dia datang menemui kita, cepat-cepatlah hubungi polisi
terdekat!, dia sangat berbahaya!” sambil memegang gadgednya
Dan
ucap Livia “Oke Galih, kita laporkan semua kejadian ini, mumpung si Toby belum
menemui kita!” memegang gadgednya sama seperti satu temannya ini
Namun saat TA sampai pada ruang tamunya yang
becek, dua teman bermain ini telah berhasil melaporkan kejadiannya kepada pihak
kepolisian yang terdekat, hal ini membuat si TA menjadi amat beringas dan
kehilangan sifat kasih dan kemanusiaannya. Ia tak segan-segan membunuh seorang
Galih dengan pistolnya “Dor!, dor!”, dalam keadaan kepalanya berlubang akibat
tertembak peluru, dan kemudian ia berjalan dengan pistolnya menemui Livia di
dalam kamar mandi karna sembunyi dari dirinya, dan Livia pun sama seperti
Galih, ia merelakan berkorbankan nyawanya demi keselamatan keempat temannya
yang masih didalam kolam renang villanya, berupa mempersilahkan dirinya untuk diperkosa
secara brutal dengan segala cara “Dor!, dor!, dor!”.
Usai pembunuhan terhadap kedua teman bermain
ini, ia langsung menaikan celana renangnya dan menyembunyikan pistolnya kedalam
baju kaos putihnya, ia tak lupa untuk menyeretkan kedua mayat dua temannya
tersebut keluar dari rumah villa. Lalu ada tiga orang wanita warga negara asing
dari Mongolia yang melintasi rumah villa yang bagus ini segera melaporkan
kepada pihak kepolisan sebelum si pelaku penembakan itu keluar dan
menghabisinya!.
Laporan
dari ketga wanita asal Mongolia ini “Hello police...!, in this villa we’re
heard the sound of shooting, we also heard the scream of a woman in this villa,
on Sukaraja street, help us, it's dangerous here” (Halo polisi...!, di villa ini kami mendengar suara penembakan, kami
juga mendengar suara jeritan seorang wanita di villa ini, di jalan Sukaraja, tolonglah
kami, disini berbahaya) dengan menggunakan gadgednya untuk melaporkan
kejadian perkara penembakan tersebut kepada polisi
Di dalam kawasan kolam renang villa
tersebut, TA menyeret-nyeretkan jenazah Galih dalam keadaan kepala dan
punggungnya berlubang akibat terjangan peluru dan jenazah Livia dalam keadaan
mulut berbusa kemerahan juga ada darah dari bagian bawahnya akibat tertembak
oleh pistolnya, kehadapan mereka berempat “Jbyurrr...!”, lalu TA berkata kepada
mereka berempat dengan lancangnya.
Kata
TA “Dua orang ini tadi saja binasa dengan tragis macam nih dalam sekejap!,
akibat mengajukan diri kepada polisi!, lalu apakah kalian berempat sedia binasa
menuju ke alam baka dengan keadaan seperti ini!?, maukah kalian, haa...!?.
Oke-okelah masbro, kalau tak mau menderita binasa macam keduanya ini, kalian
bersegeralah masuk kedalam villa ini!, naik ke lantai atas dalam keadaan
berpakaian renang macam tuh!” sambil mengancamnya
Bentak
Rando “Heh sia...!!, loe udah gila yah!?, nggak waras bukan!!?, kami baik-baik
ama loe, malah dibalas dengan pistol??, memangnya kami salah apa ama loe,
haa!!?”
Dan
bentak Randu juga “Memangnya kami community free s*x apa!!?, nggak usah sok-sok
petugas aparat dech...!!, dasar otak diktat*r loe...!!”
Dan
tawa jahat TA “Hohohoho...., itu gelar pujian yang paling indah sangat,
masbro....!?, gue paling senang dengan gelar itu, hohohoho.... mak eun....”
mengokangkan pistolnya
Kemudian
Bagas dan Wendy memotong ucapannya “Maknyusnya kakak membunuh kedua teman kami
bukan, kak...!?, kalau kakak ingin bunuh kami berdua ini juga bisa saja kok,
toh kami juga rela mati demi menegakkan kebaikan dan keadilan, dibandingkan
bekerja sama dengan tukang pembunuh macam kakak!!” dengan betapa geramnya hati mereka
ini
Balas
TA “Cik!, uwalaaahhh.... gua ogah bunuh kalian!, gua maunya membiarkan kalian
hidup-hidup sebagai budak-budak s*ks yang gua sewa ke luar negeri!, dan
permintaan kalian berdua kepada gua yang tadi..., gua tolak!, dan sekarang
cepatlah masuk kedalam villa!, naik ke lantai atas!, hayo cepat naik ke atas!,
huh... apa boleh buat, haa...!!?” dengan menyeret paksa dari luar kolam renang
itu dan mendorongnya kedalam rumah villa tersebut.
Chapter III
Menuju Titik Maut Bersama Tim Pasukan
Elit
Pada
malam harinya, memasuki jam 20:00 malam, keempat teman-teman bermainnya yang
dibiarkan hidup tersebut sudah terikat dengan tali rafia yang mengerat dan
kencang, ditambah lagi dalam keadaan berpakaian renang yang masih basah pula
yang ia simpan di dalam kamar tidur lantai atas “Hrrmmmpphhh...., hrrmmmpphhh....,
hrrmmmpphhh....”, sedangkan pihak kepolisian se-Jawa Barat pun bersegera untuk
menghubungi pihak pertahanan dari aparat Tentara Nasional Indonesia untuk
mengerahkan Tim Pasukan Elit Kopassus yang ditugaskan menuju ke tempat kejadian
perkara tersebut dengan senyap, cepat, dan tanpa diketahui oleh seorang TA si
pelaku pembunuhan dan nara pidana buronan kepolisian setempat di kota
Sukabumi!.
Seterusnya si TA pun segera menginterogasi
mereka berempat dalam keadaan yang terikat dan nafas yang hampir tertutup
dengan keras.
Ujar
TA “Hehehe..., memangnya enak diikat seperti ini, apa...!? Aing lebih dari
kalian, aing dipenjara sampai nggak dapat jatah waktu makan dan istirahat,
cooyy!!, klo kalian berempat masih mendingan disini, udah di villa yang bagus,
megah, dan berfasilitas lagi, hohohoi..., ditambah lagi kalian masih aing beri
jatah makan dan istirahat, klo aing... udah ditempatkan di sel penjara yang
padat, kumuh, sempit lagi kapasitasnya, bro.., bro...” mengejeknya.
Mulai memasuki jam 23:00 hampir tengah
malam, tanpa TA sadari, di daerah jalan Sukaraja datanglah dua unit jeep Humvee corak loreng digital warna hijau
army yang gelap dan samar milik Tim Pasukan Elit Kopassus aparat TNI berjalan
cepat “Vruuuummm.....”, dan sampailah dua mobil jeep Humvee tersebut di tempat kejadian perkara ini dalam waktu yang
cepat dan efisien “Ciiitt...!”, lalu semua anggota Tim Pasukan Elit berjumlah
enam orang ini bergegas keluar dari mobilnya dengan mengambil persenjataan
mereka yang amat lengkap, berupa sebuah jenis senapan assault rilfe, yaitu Pindad SS1
V-5 Moded dari mobil mereka “Grab..., grab..., grab...”. Mereka berenam ini telah sedia bertugas
memasuki villa ini untuk menghabisi TA si pelaku teror dan penembakan itu juga
menyelamatkan keempat sandera berpakaian renang yang disekap di dalam kamar
villanya, dengan berseragam loreng hijau army digital plus topi baret merah dan
rompi kevlar PVC loreng warna
hitamnya “Tap..!, tap..!, tap..!”.
Perintah
komando dari Kpt. Ferry “Baik..!, sekarang kalian berdua, Aiptu Mario dan Aiptu
Galuh silahkan kearah perkebunan sekalian menghubungi pihak Sabhara dari aparat
kepolisian....” sambil berbisik-bisik demi kenyamanan lingkungan dan masyarakat
sekitar.
Dan
sahut Aiptu Mario dan Aiptu Galuh “Siap 86, kapten..! Kami laksanakan..!”
dengan berbisik-bisik juga
Perintah
komando dari Kpt. Ferry dan Letda Emelda “Kalau anggota tim pasukan elit macam
kalian berempat, Ast. Lettu Reza, Ast. Lettu Naomi, Ast. Letda Cho En Liu dan
Ast. Letda Khalid, kalian bersama dengan kami berdua, Kpt. Ferry dan Letda
Emelda, sudah jelas kan instruksinya dan ada suatu pertanyaan...?”
berbisik-bisik lagi
Dan
sahut keempat anggotanya “Siap 86, tidak ada kapten!” dengan berbisik-bisik
Letda
Emelda pun segera mengeluarkan suatu titah “Kalau begitu, kita ikuti Kpt. Ferry
mendobrak paksa pintu rumah villa itu!” dengan mempersiapkan senjatanya
Dengan hal ini membuat TA si pelaku teror
tersebut semakin memuncakkan sifat kesal, marah, murka, dan jengkel, serta panik, lalu ia tak ada
kesempatan untuk memberanikan untuk berbuat apa-apa selain hanya bergumam saja.
Gumam
TA “Hadeukh...!!, mampus gua!!, mampus aing!!, huh... ini maakkhh...!!, udah
beraninya kerahkan aparat TNI Kopassus buat nyusup kesini, udah bukan
cecunguk-cecunguk polisi lagi pula!!?” sambil marah-marah jengkel dan menuju ke
kamar villanya
Saat
berada di dalam kamar villa.
Gertak
TA “Woi kalian semuanya!, jangan pura-pura tidur, apa pura-pura mati kalian!!?,
dengekeun aing dulu...!!, dengekeun aing dulu...!!, saha nu call polis
kadiyeu!?, apa kau adik perempuan cantik, Wendy, atau kalian bertiga
lelaki-lelaki mental tempe!?, haa...!!? hayo jawab, biawak bakar!!” dengan
menodongkannya
Dan
jawab mereka berempat “Bukan kami, kakak paradoks...!!” dengan mulut tertutup
Di momment inilah membuat TA makin geram
seperti bara api yang menyala-nyala, ia pun langsung menginterogasi Wendy
terlebih dahulu :
Gertak
TA “Woi Dik Wendy...!, apakah kau yang calling polis itu!?, jawablah dik cantik
dan imut yang duduk di pangkuan Kak Toby..., hehehe” sambil mengusap-usap
wajahnya
Dan
jawab Bagas dan Wendy “Kakak gila yah!?, bukan kami yang calling polis disini,
kakak mabok sih, heuuhh....!!” dengan mulut yang tertutup
Balas
Rando dan Randu “Iya betul...!, si Toby mabok waek kerjaannya, makanya dia
cepat pikun lebih dari lanjut usia...!!” dengan mulut tertutup juga
TA
pun menabok ketiga lelaki tersebut secara bergilir “Otak biawak, kau...!!”
Usai menabok ketiga lelaki tersebut, TA pun
memulai memisahkan Wendy untuk digiring keluar dari villa, entah untuk dibunuh,
dipindah ke tempat lain ataupun diperlakukan sebagai alat pelecehan seksual. Ia
menyeret Wendy keluar dengan secara paksa “Zrrttt....!”, TA juga takkan lagi memperdulikan
semua tangis dan jeritan Wendy yang ada ditangannya, ia langsung membawanya
keluar menuju pintu keluar pada halaman outdoor area kolam renang tersebut
sebelum tim pasukan menghabisnya. Dan kemudian, datanglah Tim Pasukan Elit
Kopassus tersebut mendobraknya dengan keras “Bruaakkk...!!”, dan pasukan ini
pun berbaris demi buddy system dalam melaksanakan tugas besarnya “Tap...,
tap..., tap...” sambil bercakap-cakap dengan memakai radio systemnya.
Laporan
dari Kpt. Ferry “Sector clear!” memakai radio systemnya.
Dan
sahut Letda Emelda “Affirmative, sir!” dengan radio system juga.
Balas
keempat anggota timnya “Roger that, sir!” menggunakan radio systemnya.
Titah
Kpt. Ferry “Nice work, team!, sekarang kita saatnya berpencar dalam menggeledah
satu ruangan bangunan villa ini!” pakai radio systemnya.
Balas
semua anggota timnya “Baik kapten!, kami laksanakan!, kami mohon diri!” dengan
memakai radio systemnya.
Berpencarlah mereka berenam sesuai dengan
taktik strateginya, Kpt. Ferry menuju ke kamar mandi, Letda Emelda menuju ke
ruang dapur dan kolam renang, Ast. Lettu Reza masuk ke ruang tamu plus ke
lantai atas periksa ruang karaoke, Ast. Lettu Naomi, Ast. Letda Cho En Liu, dan
Ast. Letda Khalid menuju ke lantai atas, yaitu ke kamar tidur, sedangkan nasib
Wendy yang berada diujung tangan TA yang menyekapnya, ia tanpa henti menjerit
tangis terus-menerus. Wendy juga diluar villa diperlakukan oleh TA dengan
bengis secara apapun yang ia kehendaki di dalam pikirannya!.
Jerit
Wendy “Jangan sentuh aku, kakak...!, kakak mau apa denganku...!?” dengan
mulutnya yang tertutup juga merasa kesal dengannya.
Geram
TA “Uwalaahh...!!, diam saja loe, gadis cantik, gadis imut duduk dipangkuan Kak
Toby ini!!, seharusnya kau senang dijadikan sebagai pacar dan istri simpanan gua!!”
menyekap seorang Wendy secara zalim dengan penamparan pada bagian telinganya sebanyak
dua kali tamparan juga dengan melucuti paksa celana pada pakaian renangnya untuk menelanjangi setengah tubuhnya.
Jerit
Wendy lagi “Jangan kakak...!, please, jangan kakak...!, please, aku mohon
kakak...!, jangan sentuh aku dengan tangan-pikiran kotormu, kakak...!, stop
kakak, no way kakak...!, stop mempermainkanku seperti mainan boneka bayi,
kakak...!, heuuhh...!!, lepaskan aku dari tangan dan pikiran kotormu itu,
kakak...!!, lepaskanlah aku, kakak....!!!” dengan mulut yang tertutp juga
sambil merengek menangis.
Terus
kepanikan TA mulai memuncak “Diam ajah loe, dik..!, loe hanya buat gua muak dan
panik saja. Otak biawak bakar!, merepotkan saja...!!, sekali lagi loe buat gua
panik, pistol colt gua telah menancap dan bertanya kepada belakang bawahan loe
disini, sayang...., hihihi” sambil menodongkan pistolnya kearah belakang bagian
bawahannya.
Lalu saat memasuki kamar tidur tersebut,
ketiga lelaki ini tak malu-malu untuk menjerit meminta pertolongan dengan
semangat, dan tanpa ragu serta takut akan dianiaya, diintimidasi,
diancam-ancam, apalagi sampai dibunuh oleh TA si pelaku teror tersebut.
Jeritan
Rando, Randu, dan Bagas “Mas...!, mas...!, mbak...! tolonglah kami, tolongilah
kami...!, kami sanderanya TA si pelaku teror!” dengan mulutnya yang tertutup.
Lalu kedua anggota tim pasukan elit ini
langsung melepaskannya, serta satunya lagi, yaitu Ast. Letda Cho En Liu memberi
suatu isyarat agar tetap tenang dan tidak panik dengan memakai jari telunjuk
kanannya.
Ujar
Ast.Letda Cho En Liu “Ssshhtt...!, kalian bertiga harap tenanglah!, jangan
panik!, jangan bimbang, ragu, dan takut!, kami aparat tentara TNI, teman
polisi, bukan teman penjahat!”
Tak lama kemudian ada laporan dari Letda
Emelda bahwa ia telah menemukan mayat dua teman bermain Wendy, Galih dan Livia
dengan keadaan berpakaian renang pada kolam renangnya kepada kelima anggota
timnya :
Laporan
dari Letda Emelda “Di kolam renang villa ini..., Letda Emelda telah menemukan
dua jasad orang berumuran dewasa muda, terdiri dari sepasang laki-perempuan
yang terapung di air kolam renang, mohon kerja sama semuanya, ganti...!” dengan
radio systemnya.
Kpt. Ferry pun menerima laporannya dari kamar mandi “ Saya terima, ganti...!” dengan menggunakan radio
systemnya.
Kemudian
Ast. Lettu Reza berkomando “Hello Naomi, Cho En Liu, dan Khalid, kita saatnya
berkumpul ke area kolam renang!, kita saatnya bawalah semua sandera itu keluar
villa!, ini komando perintah dari Letda Emelda dan juga dari Kpt Ferry dari
kamar mandi” mengajak anggota timnya keluar dari kamar villanya bersamaan
dengan sanderanya
Sahut
ketiga anggota timnya “Siap 86!, kami laksanakan...!” dengan menepukkan
pundaknya
Keempat anggota tim ini berjalan menuju ke
kolam renang bersama dengan ketiga sandera ini “Tap..!, tap..!, tap..!”, dengan
berhati-hati sebab mereka juga belum tentu memastikan keberadaan TA si pelaku
teror tersebut. Di area kolam renang, tim pasukan elit ini kembali berkumpul
lagi menjadi enam anggota lagi, persis waktu sebelum memasuki villa ini,
disinilah ketiga sandera ini melaporkan :
Laporan
dari Rando dan Randu “Kami bertiga dipisahkan oleh si pelaku secara paksa, dan
sebenarnya kami berempat, namun keberadaan teman perempuan kami, Wendy namanya,
diseret keluar paksa oleh pelaku, dan....” dengan lantang tanpa rasa takut
Dilanjutkan
oleh Bagas “Kami mendengar persis suara jeritan tangisan Wendy, teman perempuan
kami..., persis sangat di daerah kolam renang dan secara paksa keluar dengan
pintu outdoor area kolam renang villa ini..., itu saja laporan kami, mas...,
mbak...”
Titah
dari Kpt. Ferry “Pokoknya semua tugas melumpuhkan si pelaku, itu bagian urusan
kami, tim pasukan elit Kopassus saja, kalian hanya tinggal tenangkan diri dan
diam sajalah, are you okay?” menyarankannya.
Dan
balas ketiga lelaki ini dengan semangat “Siap komandan!, siap 86!” sambil
bersalaman
Usai berbicara bersama dengan ketiga
sanderanya yang telah diselamatkan, keenam anggota tim pasukan elit ini segera
membuat yel-yel dengan melingkarkan diri sambil menyatukan telapak tangannya.
Aba-aba
dari Kpt. Ferry “Who are us!?”
Sorak
semuanya “We are the Komando Pasukan Khusus......!” suaranya yang menggelegar
Aba-aba
Kpt. Ferry lagi “Kopassus..!?”
Dan
sorak semuanya “URA......!!!” dengan suara yang menggelegarkan jiwa
Tim pasukan elit Kopassus ini keluar dari
area kolam renang rumah villa ini lewat pintu outdoornya, tak lagi memasuki
villanya lalu keluar “Tap..., tap..., tap...”,
sesaat tim pasukan elit yang menyelamatkan Rando, Randu, dan Bagas,
ketiga lelaki ini keluar dari Villa, tiba-tiba mereka melihat sosok TA si
pelaku teror yang sedang berteriak-teriak mengajak bergulat sekalian merusak-rusakan martabat harga diri kewanitaan Wendy kepada anggota tim pasukan elit oleh si
pelaku ini :
Teriakan
TA berkali-kali “Hello cecunguk baret merah!, apa loe semua nak gelut ama gua..!?” dengan
menggertaknya juga sambil menyekap Wendy
Komando
dari Kpt. Ferry “Kita semuanya..., tetap tenang dan santai dalam menghadapi si
pelaku teror berbahaya macam ini, jangan banyak menjerit-jerit, dan inilah jiwa
dan mental kita sebagai tim Komando Pasukan Khusus TNI” kepada kelima
anggotanya
Dan
sahut kelima anggotanya “Siap kapten!, kami laksanakan!” sambil mengarahkan
senapan serbu Pindad SS1 V-5 moded-nya
kearah TA
Teriak
TA kedua kalinya “Hahahahai....!!, berani-beraninya kalian bertiga , lelaki
jiwa tempe panggil-panggil dan bersembunyi di baik bayangan tim baret merah
yang beraninya main peluru doank...!!” sambil mengarahkan pistolnya kepada
anggota tim pasukan elit
Sedangkan
semua anggota tim pasukan elit Kopassus menenangkan jiwa ketiga lelaki ini agar
tidak terhanyut emosi “Kalian bertiga calm down saja!, itu Toby si pelaku teror
biar kami yang mengurusinya saja!, dan penyelamatan Wendy si gadis imut yang
hampir diperkosa itu, bagian urusan tugas kami juga, are you okay, brother?”
dengan berbisik-bisik
Dan
ucap Rando, Randu, dan Bagas “Oke siap, kapten!” berjabat tangan dengan tenang
Kemudian
TA berteriak lagi yang ketiga kalinya “Hohohohoi....!!!, daripada kalian main
ama peluru ke gua, mending gua ajak kalian cecunguk baret merah main ama cewek
gadis remaja ini ajah, gua jamin, gua bayarin dech kalian-kalian dengan
sebanyak 999.000.000,- juta dan sekalian ajah gua bayarin dengan 1,5 miliyar,
sebagai upah aksi heroik patrotisme kalian-kalian, hohohoi...!!, maukah kalian para
cecunguk baret merah??” sambil menodongkan pistol Colt Anaconda-nya kearah wajah Wendy
Ucap
Letda Emelda “Ini mah..., belum seberapa dibandingkan dengan teroris kelas
kakap yang sesungguhnya, tenang sajalah...!, Toby si pelaku teror ini hanyalah
bocah ceungengesan saja!, dia mau-maunya ajak-ajak kita antar-jemput ke titik
maut, sama ibaratnya seperti bermain boneka bayi!” kepada anggota timnya
Dan
lanjut Ast. Lettu Reza dan Ast. Lettu Naomi “Hmm..., kita sebagai tim pasukan
elit terpercaya oleh bangsa-negara kita sudah terbiasa hadapi musuh macam ini!,
anggap saja hadapi dia seperti hadapi bocah geng motor yang hanya seupil
nyalinya, tak usah anggap dia macam hadapi musuh negara kelas kakap, paham...?”
Dan
seru semua tim anggota pasukan elit ini “Siap, paham...!” sambil mengarahkan
senapan senrbu Pindad SS1 V-5 moded-nya kepada TA lagi
Ocehan
TA kepada tim pasukan elit ”Sudahah...!,
kalian gadaikan saja senapan elit kalian masing-masing, lebih baik
kalian lupakanlah tugas-tugas penting kalian, dan sini loe semua!!, bareng gua
mainin gadis ini, Wendy si pacar dan istri simpanan gua disini saja!, hahaha,
ini semua kan hak milik Yang Maha Kuasa, uwahahahahai....!!!” dengan mudahnya
sok belagak kepada tim pasukan elit tersebut, juga mempermainkan daerah
kewanitaan Wendy secara seksual yang diperlihatkan kedepan muka ketiga
teman lelaki bermainnya.
Dan
balas ucapan dari Wendy kepada TA “Enak saja, kakak ini.... berbicara dengan
mudahnya sok belagak kepada tim pasukan elit negara!, memangnya dia pikir aku
mau yaa, semua martabat kehormatan kewanitaanku dibeli dengan harga yang murah
dan dapat didiskon dengan mudah?, apalagi dia beraninya sembarangan
membawa-bawa nama Tuhan lagi, aku tetap mengharapkan semua janjiMu, Tuhan...,
walaupun aku terdesak oleh si tangan ideologi Iblis naga tua ini, kuingin
imanku dalamMu tetap berjalan selalu, amin...” di dalam hatinya yang sudah
pasrah atas keadaannya yang semakin kritis di ujung cengkraman tangan dan semua
perbuatan bengis serta asusila TA
Muncullah
titah dari Kpt Ferry dan Letda Emelda “Hello Toby Agustian...!, mohon
lepaskanlah seorang Wendy si gadis imut itu dari tanganmu!, dengan
sesopan-sopannya....” dengan posisi menembak TA
Titah
kedua dari keempat anggota tim pasukan elit Kopassus “Kalau kau ingin berlagak
dengan kami, apalagi kau udah sembarangan bawa-bawa nama Tuhan kehadapan kami...,
sebaiknya kau lepaskan segala tangan-pikiran kotormu dari gadis imut yang kau
rampas semua martabat kehormatan kewanitaan gadis itu terlebih dahulu!,
lepaskanlah dengan sebijak-bijaknya...” dengan posisi menembak TA
Titah
Kpt. Ferry yang kedua kalinya “Kalau kau tidak mau...., itu semua keputusanmu
menuju titik maut!, dan kami tak segan-segannya menghabisi nyawamu paksa atau
kami lumpuhkan dirimu sekalian melepaskan Wendy si gadis imut tersebut dari
tanganmu secara paksa...!” dengan mengarahkan senapan serbunya kearah tangan
dan kaki TA
Jawab
TA “Enak saja masbro...!!!, gua dapatin Wendy si gadis imut jelita macam nih,
dengan hasil kerja keras dan banting tulang gua sendiri, masbro..., masbro...
uwenak’eeehhh, kalau saja gua melepaskan tangan gua dari si gadis imut jelita
ini...!!!” semakin bersikap beringas
Setibanya usai TA berdebat dengan keenam
anggota tim pasukan elit Kopassus ini, datanglah kedua tim inteljen ternama
ini, Aiptu Mario dan Aiptu Galuh yang bersenjatakan jenis SMG MP5 Silencer ini yang barusan
menggeledah semua isi rumah TA bersama-sama dengan tim patroli Sabhara
kepolisian kota Sukabumi tersebut langsung bergerak dnegan cepat dan kecakatan
“Drap..!, drap..!, drap..!” sambil bertitah :
Teriak
Aiptu Mario dan Aiptu Galuh “Toby Agustian!, Jangan bergerak!, diam ditempat!”
bertitah dengan berani dan gagahnya
Dan
kepanikan TA “What the....!!” dengan tangan kanannya yang mengancungkan
pistolnya kepada tim patroli Sabhara dan kirinya yang secara tiba-tiba melepaskan
seorang Wendy si gadis remaja imut yang ia sekapnya begitu saja
Disinilah tim pasukan elit Kopassus dari
pihak TNI tersebut segera menembakan senapan serbu Pindad SS1 V-5 moded-nya “Dederederedet!!”, dan seorang gadis imut
yang disekap oleh si TA ini langsung berlari kehadapan pihak tim pasukan elit
Kopassus dalam keadaan telanjang pada bagian bawahannya “Drap..!, drap..!,
drap..!”, dan seluruh tim patroli Sabhara kepolisian juga keempat anggota tim
pasukan elit Kopassus yang laki-laki berjumlah empat orang bersegera mengunci
badan dan memborgol kedua tangan TA si pelaku teror secara bersamaan
“Grrkkk...!” “Cring..!, cring..!”, kemudian digiringlah sosok TA kedalam mobil
patroli Sabhara Ford Ranger jenis
pick up “Drap..!, drap..!, drap..!”.
Ocehan
dan ancaman dendam TA “Awas saja kau Wendy dasar gadis sok imut!, sok pintar!,
lihat saja pembalasan gua di alam baka dan akhirat nanti!!” diucapkannya dalam
hati dengan perasaan yang semakin beringas pula
Sekarang
nasib Wendy si gadis remaja imut yang sehabis disekap dan diperkosa oleh sosok TA
si pelaku teror rumah villa tersebut, ia segera diamankan oleh kedua personil
tim pasukan elit Kopassus TNI wanita, Letda Emelda dan Ast. Lettu Naomi, juga
oleh seorang tim inteljen polwan, Aiptu Galuh kedalam kamar tidur lantai atas, dan
mereka bertiga ini tanpa basa-basi menutupi daerah kehormatan wanita Wendy
dengan selembar kain handuk putih yang diberikannya.
Titah Letda Emelda, Lettu Naomi, dan Aiptu Galuh "Dik Wendy...!, ananda boleh tutupi auratmu pakai handuk putih dari mbak-mbak tim pasukan elit ini" dengan tersenyum
Wendy pun mengambilnya "Iya mbak, makasih banyak mbak..." tersenyum hangat sambil terharu karena aksi heroik penyelamatan yang dilakukan mereka kepadanya
Aiptu Galuh pun memeluknya dengan erat "Dik Wendy..., anda tak usah khawatir lagi, yaa dik... kan mbak-mbak petugas ini sudah ada untuk melindungimu dari tangan lelaki pelaku, yaa kan..."
Begitu juga Letda Emelda "Iya dik Wendy..., tidak perlu galau dan bersedih hati lagi yaa..., kami tim petugas akan segera mengantarkanmu sekalian kepada orang tuanya masing-masing, kok..."
Dan ujaran kasih Lettu Naomi dan Aiptu Galuh "Sedangkan tugas kami bertiga sama-sama melayani dan mengayomi masyarakat seperti seseorang gadis remaja sepertimu, Wendy, iya nggak....?, eh itu mah tugas utamanya Aiptu Galuh, yaa...." bercanda dengan bijaksana dan sambil memberikan Wendy sebuah jaket parka panjang hangat warna biru untuk menutupi seluruh bagian privasinya
Balas Wendy "Iya mbak..., pokoknya mbak-mbak semuanya sama saja kok, hiks..." sambil ingin menangis akibat traumanya
Seterusnya gadis imut seperti Wendy ini langsung melampiaskan tangisannya kepada ketiga anggota tim aparat yang telah menyelesaikan tugasnya, menyelamatkan masyarakat dari gangguan ilalang-ilalang pengganggu masyarakat, sebab ia masih agak takut dan trauma akan peristiwa kehidupan hari esok dan masa depannya yang akan datang.
Lalu bagainama yang ketiga teman lelaki
bermain Wendy, yaitu Rando, Randu, dan Bagas, satu lagi, begitu pula keadaan jenazah
Galih dan Livia yang terbuang di kolam renang villa tersebut?, mereka seperti
biasa di data oleh keempat anggota tim pasukan elit Kopassus pria dan seorang
tim inteljen kepolisian, Aiptu Mario di dalam bangunan rumah villa yang mereka singgahinya,
di dalam ruang tamu, sedangkan urusan jenazah Galih dan Livia itu diserahkan
kepada pihak tim medis ambulance, dinas pemadam kebakaran, dan Basarnas (Badan Search and Rescue Nasional) untuk
diotopsi dengan perawatan khusus pada rumah sakit yang terdekat, sekalian
dihubungi kepada pihak keluarganya masing-masing yang rindu kepulangan mereka
berdua ini, dan kemudian berdukalah keluarga kedua orang ini dengan air mata
tangisan yang deras.
Tanya seorang Kpt. Ferry "Kalian bertiga yang lelaki..., awal peristiwa peneroran di villa ini, gimana saja kalian ceritakan, dari awal sampai akhir, kami ingin tahu saja, brothers..." dengan humblingnya yang dibagikan dengan hangat kepadanya
Dan jawab Bagas "Awalnya orang itu...,kami nggak tahu entah dia itu menggelandang di jalanan atau dia juga sama seperti kami, kami sewa dan piknik ke villa ini...."
Jawab Randu "Kami juga awalnya belum mengenal orang itu dari kota mana, ternyata ia dari Bogor sehabis pelarian dari pengejaran polisi dari Depok, gitu mas...."
Kemudian Lettu Reza, Ast. Letda Khalid, dan Aiptu Mario bertanya pula "Ohh..., hmm yaa yaa..., tetapi kalian mengetahui dia si Toby Agustian itu buronan dari siapa, dan dari manakah sumbernya kalian mengetahui hal tersebut...?" sambil menenangkan diri ketiga lelaki teman bermain Wendy ini
Rando menjawab "Kami mengetahui awal tentang dia itu..., dari seorang Livia, teman bermain kami yang pernah melihatnya saat ia merampok seseorang anak kecil dengan sebilah celuritnya di sekitar kota Depok, dan itupun kami diberitahukan saat melakukan aktivitas olahraga renang dan voli air..."
Lalu ujar Bagas dan Randu "Iya benar,
mas... Makanya mengapa dia membunuh dua teman bermain kami, Kak Livia dan Kak
Galih secara brutal ditempat, sebab kedua kakak-kakak teman bermain kamilah
yang jadi saksi si TA itu seorang buronan polisi, kami agak geram juga ama
kelakuan dia, udah kami mengasihi dia dengan sesantun-santunnya, dia berubah
drastis menjadi brutal secara tiba-tiba gitu, mas..." dengan agak trauma
Lanjut Rando "Yang pertama dia
menodong dan meneror kami saat aktivitas renang, seluruh barang-barang
kepunyaan kami dirampas paksa, juga membunuh kedua teman kami pula, yang
kedua menyekap kami dan menganiaya kami dengan bengis, dan yang terakhir dia
menggiring tambah lagi memperkosa si Wendy, teman perempuan bermain kami yang
satu-satunya sekarang ini, secara paksa dia merampas semua martabat harga diri
kewanitaannya Wendy, dengan memainkan alat kemaluannya sampai muncrat-muncrat
gitu, mas..." agak kesal
Lanjut Bagas pula "Itu pun dalam keadaan tanpa bercelana, mas.... itulah simbol dia sengaja melampiaskan olokannya tersebut agar kami terpancing emosi olehnya, dan yang paling terakhir lagi, yaa... Puji Tuhan akhirnya dia berhasil dilumpuhkan tim Kopassus dengan sigap serta diringkus oleh tim patroli Sabhara" agak trauma juga
Ujar Ast. Letda Cho En Liu
"Kebangetan juga sih, si pelaku itu.. dia udah terjerat perampokan,
pelarian dari hukuman penjara, peneroran, pembunuhan, penganiayaan, juga
pemerkosaan lagi, wah, wah, wah.. makanya kami tim Kopassus TNI
ditugaskan untuk kesini, iya tidak?" geleng-geleng kepala
Dab sahut Rando, Randu, dan Bagas
"Iya mas..." dengan tenang
Pada esok hari minggunya, usai ibadah raya
yang letakanya di suatu gereja yang cara ibadahnya pakai musik modern, GMS Provider Sukabumi, Wendy segera
diantarkan oleh kedua orang tuanya untuk dipulihkan dengan ditumpang tangkan
serta di doakan oleh seorang pastor dari gembala induknya asal Surabaya, Ps.
Philip Mantofa karna rasa traumanya kemarin semalaman yang agak parah.
Doa
dari Pastor Philip “Tuhan Yesus...., Engkau berikanlah kekuatan dan pengharapan
di dalam Engkau untuk selamanya kepada juniorMu ini, Wendy.... yang semalaman hari
sabtunya ia telah menjadi korban teror dan pemerkosaan oleh seorang pelaku
tersebut, dan kiranya Engkau ampunilah juniorMu ini, Wendy selalu Engkau
bungkuskanlah di dalam kuasa darahMu dan syafaatMu, syafaat Roh KudusNya,
dengan segenap ridhoMu, Tuhan, allah Bapa pencipta kami...., kiranya Engkau
berikanlah syafaat bagi tim aparat yang semalaman menyelamatkan nyawa gadis
remaja ini yang macam Wendy ini, kiranya Engkau juga berikanlah syafaat Roh
KudusMu agar si pelaku benar-benar bertobat dan menerima Engkau sebagai
Juruselamat, serta diberi ampunanNya selalu.... Agar roh-roh jahat yang membuat
Wendy ini kepahitan dan putus pengharapan di dalamMu, Engkau patahkanlah dan
leburkanlah di dalam kuasa nama Tuhan Yesus Kristus, di dalam nama Tuhan Yesus
Kristus, haleluya, amen...” dengan menunpangkan tangannya
Agar Wendy mendapat masa depan yang tidak
sama seperti yang peristiwa semalaman, begitu cerah, dan berpengharapan dalam
Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus juga diverivikasi oleh seorang psikolog di
kantor polisi, bagian ruang pelindungan wanita dan anak-anak. Dan saat esok lusa
rabunya, Wendy pun dapat kembali bersekolah dan bergaul lagi bersama
teman-temannya dengan tenang, aman, tentram, dan damai sejahtera atas segala kuasa
dan syafaat dari pencurahan Roh Tuhan Yang Maha Esa, walau terkadang ia diselimuti
oleh sedikit rasa ketakutan dan ketidakpercayaan diri, bahkan sampai ingin
mencoba bunuh diri sebanyak tiga kali dengan ingin menggantung diri dalam
sehari alias tidak se-instant apa yang orang tua dan semua keluarga besarnya
pikirkan.
Ucapan
syukur Wendy “Terima kasih, Tuhan Yesus, maha suci Engkau, Allah penghibur
dalam sepanjang hidupku... hanya kuasa darahMu dan syafaatMu-lah yang dapat
memulihkan segala aspek dalam kehidupan ini, dalam nama Tuhan Yesus, amen...” saat
telah memasuki hari rabu, hari ia kembali bersekolah dengan damai
Sedangkan kehidupan TA (Toby Agustian), seorang
pelaku teror rumah villa ini juga ia terlibat perampokan terhadap anak-anak
dibawah umur pula saat ia berada di kota Depok, ia telah dipindahkan dan
ditempatkan dalam kamp penjara Pulau Nusakambangan, konsenkuensinya ia harus
menerima tindak hukuman mati dengan dijerat pasal 340 KUHP yang sesuai
diputuskan oleh pihak pengadilan yang berbunyi :
"Barang
siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain,
diancam karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh
tahun."
Dengan
dibarengi fasilitas penjagaan yang cukup ketat, sehingga tidak ada seorang pun
yang bisa bertemunya dengan mudah!.
THE END